Tentang 30 Hari Cerita Cinta

Showing posts with label Bianglala. Show all posts
Showing posts with label Bianglala. Show all posts

16 September 2011

(Bukan) Pertemuan Terakhir (2)

Dan bukannya langsung keluar, atau setidaknya membuka kaca mobil. Aku malah tetap diam di dalam sambil berpikir, apa yang harus kulakukan?

Gian Sugandi, kenapa kamu tiba-tiba datang saat aku sedang merindu? Ini adalah sebuah berkah atau malah bencanakah?
Aku juga heran sendiri, bukankah seharusnya saat ini aku langsung membuka pintu dan memeluknya untuk mengobati rinduku? Tapi kenapa sekarang tubuh dan bibirku kelu?

Melihatku yang bergeming tak keluar untuk bertukar sapa, Gian menatapku heran. Lalu sekali lagi ia mengetuk kaca mobilku. Kali ini dengan kerutan dahi, bukan lagi senyum seperti sebelumnya.

Dan aku tergagap, dengan gugup mematikan mesin mobil, mengambil kunci lalu keluar dari mobil.

"Kamu... kapan pulang?" tanyaku ragu.
Gian tidak langsung menjawab, ia malah menatapku dengan tidak suka.
"Kok kamu kayak gak seneng aku pulang ke Indonesia?"
"Eh, bukan gitu. Masalahnya, ada gossip kamu mau pulang pun nggak  ada kan. Kamu bahkan - " lalu aku diam tidak jadi mengucap. Sadar ada sesuatu yang salah.
Gian tersenyum kecil. Tapi ia tidak berkata apa-apa selain langsung memelukku.

Lelaki yang mendekapku erat ini memang bukan tipe lelaki yang mampu mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata. Tapi segala hal akan ia lakukan untuk membuat orang-orang tersayangnya berada dalam kenyamanan dan keamanan.
Seharusnya, aku tahu itu dari dulu. Rinduku pun tak bertepuk sebelah tangan. Seharusnya, aku tahu dari dulu, bahwa Gian adalah satu-satunya. Dan untuk semua, seharusnya ada penjelasan kan?


~ (oleh @cHaMarsya)

15 September 2011

Bianglala : (Bukan) Pertemuan Terakhir (1)

Satu bulan lalu.

Setelah tugas kelompok kuliah yang dikerjakan di salah satu rumah temanku selesai. Bukannya langsung pulang dan beristirahat karena sudah hampir seharian berkutat dengan hitungan dan gambar. Aku malah memilih mengarahkan mobilku ke satu tempat di mana semua kenangan mengumpul jadi satu. Inilah salah satu keanehanku, jika kelelahan rindu biasanya menyerang lebih hebat.

Aku tahu, menghampiri kenangan sama saja menghampiri kesedihan berkepanjangan. Tapi, bagaimana lagi aku bisa meneriakkan rinduku padanya selain cara ini? Rindu yang biasanya selalu berhasil kusimpan rapat dalam hati. Nyatanya kali ini tidak bisa lagi disimpan begitu saja. Dan tidak mungkin juga aku bisa meneriakkan rindu ini begitu saja padamu bukan? Karena sudah hampir tiga tahun kamu tidak pernah menghubungiku kembali. Jadi sebenarnya jelas kan kalau 'urusan' kita benar-benar sudah selesai? Tapi kenapa aku masih merindu? Ah ternyata ini hanya 'urusan' satu pihak saja. Hatiku.

Parahnya, ketika mobil baru saja terparkir manis di parkiran sekolah bercat abu-abu ini. Satu tetes air mata sudah jatuh di stir mobil.

Kupandangi buliran air mata yang jatuh untuk rindu dan luka yang menganga itu, bingung.

**

Aku tidak langsung keluar mobil, berencana pun tidak. Yang kutahu bahwa aku hanya 'butuh' datang ke tempat ini untuk memanjakan rindu yang terlalu.

Sudah setengah jam berlalu dan aku masih duduk di depan kemudi. Memandangi ratusan pelajar berseragam putih abu-abu lalu lalang di jam pulang sekolah menjelang petang. Dengan posisi mobil yang terparkir menghadap barat ini pula. Aku sangat bisa merasakan cahaya senja yang menyapa wajahku dengan oranye-nya.

Aku pun ingat sekali, bagaimana tiap hari selama akhir-akhir masa sekolahku di gedung ini. Kita - aku denganmu berjalan malu-malu dari kelas sampai parkiran menuju motormu untuk pulang. Dan bagaimana aku selalu berusaha menyembunyikan senyumku dibalik helm putih yang selalu kamu sediakan untukku tiga bulan belakang.

Tiga bulan sebelum kelulusan, juga tiga bulan sebelum pengumuman segala penerimaan mahasiswa baru yang bersifat tanpa tes atau beasiswa.

Dan tepat setelah enam bulan itulah, aku baru menyadari bahwa ada yang 'belum' jelas di antara kita. Dan lebih parahnya, aku bahkan belum tahu apakah dalam hati cinta atau hanya obsesi semata. Karena kamu adalah salahsatu bintang sekolah. Sayangnya, kamu (seoertinya) terlanjur mencintaiku lebih dulu dan lebih dalam. Sedangkan aku masih meragu.

Aku juga terlambat menyadari, bahwa ternyata kamu adalah salah satu siswa yang mendapat beasiswa di sebuah college di Jerman.

Aku baru menyadari dan tahu, setelah kamu pergi.

Sudah sedemikian sakit hatinyakah dirimu tentang aku yang meragu hingga memberi tahuku tentang beasiswa itu pun tidak?

Lagi-lagi ada buliran yang jatuh dari mataku. Tapi kali ini, untuk penyesalan dan kata maaf yang tak terucap.

Dan tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilku. Saat aku menoleh, aku terkejut melihat wajah yang tersenyum itu. Campuran antara bahagia dan kaget.


~ (oleh @cHaMarsya)

13 September 2011

Bianglala : Duri Rindu

Aku tahu masa lalu itu hanya ada di belakang. Dan tidak baik untuk mengingatnya terus-menerus. Ironisnya kenangan selalu menyeretnya serta ke masa depan. Atau, aku saja yang tak mau melepas kenangan? Tepatnya kamu, karena kamu adalah masa lalu.

Oh tidak, aku yang masa lalu bagimu. Karena bagiku, kamu adalah sebuah kenangan indah di masa lalu yang selalu hidup di masa ini dan mungkin hingga masa depan.

Sayangnya, aku terlambat mengetahuinya.

Egoku terlalu tinggi saat itu untuk menerimamu, tepatnya melihat cintamu. Dan juga terlalu meragukannya. Karena terlalu banyak hal tidak logis yang mampu diterima dengan baik oleh otak sehingga membuatku selalu bertanya-tanya, lalu meragu. Padahal, beberapa hal dalam cinta memang tidak logis bukan?

Kalau saja aku tahu bahwa mencintaimu itu indah. Kan kulakukannya sejak dulu, tanpa ragu. Tanpa pernah memaksamu untuk berbicara mengenai kejelasan hubungan kita. Karena nyatanya bagiku kini semua tidak perlu. Aku tidak butuh ucapan janji setiamu. Karena nyatanya yang kurindukan selalu adalah jokes-mu. Dan itu bagiku sudah cukup setidaknya, kamu selalu ada di setiap aku membutuhkan – dan kuharap kau pun begitu padaku. Klise memang, tapi seperti itulah aku mencintai dan merasa dicintai. Dengan keberadaan dan penghargaan. Karena yang lebih cinta butuhkan adalah pembuktian bukan ucapan janji setia dan kata puitis cinta.

Hingga akhirnya aku kehilanganmu. Lalu rindu mulai menyerangku dengan dahsyat. Bukan jenis rindu yang indah yang mampu kuungkapkan kepada objek rindu.

Juga bukan tipe rindu yang menyesakkan. Tidak, aku tidak pernah sesak karena kelebihan kadar rindu. Rinduku padamu, hanyalah tipe rindu kecil yang tak perlu diucapkan.

Sayangnya bukan berarti kecil tidak menyakitkan. Ini malah lebih menyesakkan. Karena rindu yang kecil ini malah menancap tepat di hatiku. Seperti duri. Kecil tapi mampu membuat objek tancapannya berdarah.

Aku hanya rindu enam bulan bersama kita. Enam bulan dengan banyak telepon malam hari sebelum tidur. Juga pesan-pesan singkat penyemangat pagi hari.

Hingga tiap ponsel memekik setelah aku kehilanganmu, aku selalu berharap bahwa kamu akan memberiku kabar. Sewaktu-waktu.

Nyatanya, sewaktu-waktu itu tidak pernah ada hingga seribu hari lebih.

Dan rindu itu masih mengganggu. Kupilih untuk kukecup saja kenangan satu-satu. Tak perlu kautahu aku merindu.



~ (oleh @cHaMarsya - justmyshatara.blogspot.com)