Tentang 30 Hari Cerita Cinta

22 September 2011

#10 Reuni

Reuni, Apa kabar Yogya?

Sudah banyak yang berubah dengan kota ini, namun entah kenapa masih saja menghadirkan sesuatu yang luar biasa untukku. Atmosphere, suasana ramahnya yang tersaji atau memori sepanjang hidupku, ah entahlah aku tak bisa menguatkan pendapatku sendiri. Yogya sekarang jauh berubah, banyak yang baru disana-sini. Pembangunan maju pesat, jalanan ramai, tempat "nongkrong" menjamur dan muda-mudi pun (khususnya para mahasiswa yang menimba ilmu) semakin bisa mengeluarkan identitasnya sebagai anak muda, sesuatu yang sangat berbeda dengan beberapa tahun ke belakang. Tidak terlihat sisa-sia trauma dari amukan Merapi beberapa bulan lalu, Yogya benar-benar bangkit dan tak mau lama-lama larut dalam kesedihan. Di satu sisi persatuan masyarakat Yogya semakin kuat setelah status Daerah Istimewanya "Diusik" oleh pusat, suatu kenyataan yang sebenarnya hanya dikarenakan lupa dan bahkan ketidakpahaman pemerintah akan ilmu sejarah dan antropologi. Inilah akibatnya jika budaya tersampingkan dan pemerintah hanya sibuk dengan masalah ekonomi dan hukum, padahal Budaya merupakan senjata ampuh untuk membenahi permasalahan bangsa saat ini. Banyak orang lupa jika budaya adalah dasar dari martabat dan identitas Indonesia sebagai suatu bangsa, YANG SAAT INI SUDAH TIDAK BISA DIRASAKAN LAGI. Sangat disayangkan.

"Len…. Nalennnn.." Panggilan Naya membuyarkan semua lamunanku yang bisa menjadi makalah bila diteruskan. Hehe.. Tampaknya sudah cukup, disini aku ingin sepenuhnya mengulang kenangan bersama Naya dan sahabat-sahabatku bukan untuk beretorika dan beragumentasi. Hehehe.

"Iya Nay, aku di depan" Jawabku singkat.

Naya menyeruak muncul dari dalam rumah, rupanya ia sudah bersiap untuk bepergian. Malam ini memang kita sudah berencana bertemu teman-teman lama.
"Wuihhhh.. Cantik amat bini gw ya, mau kemana mpok??", Candaku dengan logat betawi, yang biasanya akan diikuti juga oleh Naya.

"Lah, pan tadi abang yang ngajakin aye jalan-jalan? Pegimana sih bang? Jadi kagak sih?", Saut Naya juga dengan logat yang sama (Benarkan kataku).

"Iya-iya jadi dong nay, aku udah kontak anak-anak, mereka pada mau dating dan kita janjian ketemu di Vredeburg (Vredeburg adalah benteng peninggalan Belanda yang terletak di antara jalan Malioboro dan Kantor Pos Besar)", Jawabku.

"Oke kalau begitu ayok len kita pamit bapak ma ibu", Sahut Naya.

"Ayok deh, udah jam 7 kita janjian jam setengah 8, kalo kecepetan kita makan sate aja dulu disana", Balasku.

Akhirnya kami pun masuk kedalam rumah untuk pamitan ke bapak dan ibu, sekaligus minjem motor bapaknya Nada alias mas Wisnu kakak iparku. Oiya.. untuk yang belum pernah ke Yogya, Vredeburg itu merupakan benteng peninggalan penjajahan Hindia Belanda. Bentuk bangunannya masih sangat terawat dan saat ini berubah fungsi menjadi museum yang memamerkan sejarah bangsa Indonesia. Letaknya  diujung jalan Malioboro dan berada ditengah-tengah Istana Negara Yogyakarta, Kantor Pos Besar dan Pasar Beringharjo membuat tempat ini menjadi sangat strategis, dan pasti sudah terbayang keriuhan yang tercipta ditempat itu. Musisi jalanan, penjaja berbagai makanan dari sate, harum manis hingga wedang ronde turut meramaikan tempat itu.

"Yo wis kono nek arep jalan-jalan, ati-ati yo.. ojo banter-banter numpak motore.. Inget lo le", Jawaban Ibu kepadaku dan Naya ketika kami izin untuk pergi mala mini.

"Nggih bu, boten banter-banter", Jawabku kepada ibu. Aku tak pamit pada bapak, karena bapak sudah jalan ke mushola untuk solat isya.

"Nada arep melu ora da?", candaku pada Nada.

"Hussh. Ojo macem-macem les engko repot ngejak Nada", Sahut ibunya.

"Hahaha.. Bercanda mbak, sopo sing tenanan", jawabku ke kakak wanitaku satu-satunya.

"Hoo. Pantes ora dikek2'I keturunan, kowe isih males yo le karo cah cilik", Sahut Ibuku , yang s



epertinya mengundang reaksi Naya menjadi seperti tadi siang. Sebenarnya Ibu hanya bercanda dan aku yakin tidak ada niat untuk menyindir, tetapi Naya selalu sensitif jika membicarakan momongan dan itu terlihat jelas diraut wajahnya. Aku tahu persis sifat Naya yang selalu ceria dan bawel jadi jika tiba-tiba mendadak diam berarti ada sesuatu hal yang mengusiknya.
Aku pun hanya bisa tersenyum dan bergegas pergi agar Naya kembali ceria.

"Assalamualaikum, pergi dulu bu, mbak, Nada", Ucap aku dan Naya. Dijalan sebisa mungkin aku berceloteh apa saja agar Naya tidak terbawa ucapan ibu yang disalahartikan olehnya, Ia pun larut juga akan nostalgia seperti ini dan sedikit-sedikit melupakan kata-kata Ibu tadi.

Tidak sampai 20 menit, kami sudah sampai di Vredeburg. Tidak banyak yang berubah hanya saja yang menyita perhatianku dan Naya hanyalah keramaian yang tersaji disana. Untung ini bukan malam minggu pikirku. Tak lama kawan-kawanku semasa perjuangan satu per satu datang, sebenarnya teman-temanku yang sekarang bertemu ini adalah teman-teman Naya juga tetapi tidak terlalu dekat. Teman-teman dekat Naya sudah tidak ada yang tinggal di Yogya.

Tidak banyak temanku yang datang hanya tiga orang, semua satu jurusan denganku (Semua laki-laki), dua diantaranya membawa pasangan jadi untunglah Naya punya teman untuk ngobrol-ngobrol urusan wanita. Obrolan kami benar-benar menghebohkan, temanku si Santo yang belum memiliki pasangan habis dicela oleh semuanya. Senang rasanya melihat Naya ikut ceria malam itu, setidaknya hingga ia terlupa akan kehamilan.

Malam itu benar-benar rusuh bercandaan kita benar-benar tidak ada batasan, seluruh aib dimasa lalu semua dibuka, dari kisah asmara, gelut, mendem, acara kampus dan masih banyak lagi. Selain itu tema-tema sejarah dan budaya tidak terlepas ikut dibicarakan, Santo temanku adalah dosen FIB di UGM, Roni saat ini berwiraswasta di bidang souvenir dan cinderamata, sedangkan Yahya yang asli Bandung saat ini menetap di Solo setelah menikahi putri solo dan saat ini bekerja di pemda Solo. Yahya banyak bercerita tentang perkembangan Solo sebagai sebuah kota dan berbagai macam kebijakan yang dinilai masyarakat kota solo sangat berpihak kepada rakyat kecil dan identitas kota Solo sebagai kota budaya yang wajib melestarikan budaya asli, dengan slogannya "Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu". Obrolan kami pun bak gayung bersambut, ternyata disiplin yang kami punya masih sangat terjaga hingga saat ini. Roni yang juga pengusaha souvenir saat ini memfasilitasi produsen-produsen kecil souvenir hasil kerajinan khas Yogya ke pasar nasional maupun internasional, mulai dari wayang kulit, pajangan-pajangan dari kayu, miniatur-miniatur moda transportasi(becak,sepeda dll) hingga mainan-mainan tradisional macam dakon, kitiran dan mainan-mainan lainnya. Sedangkan Santo layaknya dosen ia mengajar setiap hari dan juga menulis di media-media cetak.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 1 dinihari, kami pun memutuskan untuk mengakhiri nostalgia yang sudah pasti tidak ada habisnya jika tidak dihentikan. Naya pun sudah mulai ngantuk, sebelum beranjak pulang kita bertujuh menyempatkan makan oseng-oseng mercon yang terkenal cita rasa pedasnya jadi sedikit menahan rasa kantuk.
Kami tiba pukul 2 dini hari dirumah ibu, seluruh penghuni rumahku sudah terlarut di alam mimpi.

"Nay jangan lupa ya cuci kaki sebelum naik tempat tidur", sahutku.

"Iya sayang tenang aja", jawab Naya.

Aku pun teringat akan candaku tadi siang, kehamilan juga turut menyita pikiranku. Timbulah ide untuk menyegerakan proses kehamilan hehehe..
Ku perhatikan istriku yang tampak sangat kelelahan sekali dia malam ini, lalu ku urungkan niat. Biar ku temani tidurnya dengan pelukku saja.

"Selamat tidur sayang..",

RUMAH YOGYA
Nalen

~ (oleh @sthirapradipta)                                                                                                                                 

I Think I'm in Love #8

Semenjak hari itu, aku dan dia selalu bersama. Maklumlah yang baru jadian, semoga langgeng.

Hal yang paling aku tunggu disetiap harinya adalah, berada di jalan pulang ke rumah. Itu adalah hal yang paling sangat menyenangkan. Disaat seharian aku berkutat dengan sejumlah matakuliah yang sedikit menjenuhkan, senior-senior yang kadang menyebalkan, junior-junior yang kadang mencari perhatian, dan teman seangkatan yang kadang mencari gara-gara, yaa kata pulang sangat lah menyenangkan.

Sebenarnya itu bukan intinya. Intinya adalah di jalan pulang ketika bersamanya. Hehehe.

Hmm, lampu merah yang begitu lama, banyaknya kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan, yang konon bisa membuat orang naik darah kini beralih menjadi hal yang paling menyenangkan. Kenapa ? yaa karena hal itulah yang membuat perjalananku dan DIA semakin lama, dan semakin lama pula aku bersamanya. Semakin lama mencium aroma tubuhnya, semakin lama melihat ekspresi wajahnya ketika dia mengendarai.

Dua kaca spion ini, ternyata multifungsi juga ya ? selain menghindari kecelakan, juga bisa digunakan untuk melihat wajahnya yang jelek, ekspresi-ekspresi nya yang konyol, namun aku suka melihatnya. Kadang aku tersipu malu, ketika mata kami saling bertautan, yaa tepat di kaca spion itu, dan kami pun tersenyum bersama. Itu benar-benar hal yang konyol.

Namun, kadang aku tak menginginkan kaca spion itu tetap berada di tempatnya, ketika aku benar-benar tengah rindu padanya, atau ketika aku marah, terlebih ketika aku menangis. Spion itu benar-benar merekam dengan jelas ekspresi-ekspresiku. Dia bisa melihat dengan jelas raut wajahku, itu membuatku agak malu. Dia akan benar-benar menertawaiku ketika melihatku dengan ekspresi konyol di spion itu.
Yaa, rumahku tinggal 100 meter lagi. Kata-kata yang sering terucap adalah "ya, sudah mau sampai". Seakan-akan tak ingin perjalan yang lumayan panjang itu berakhir. Padahal, hampir setiap hari kami melakukan ini. Lagi-lagi konyol. heheheh

Yap, sudah sampai di depan rumahku. Perjalan indah hari ini cukup sampai di sini. Dan lagi-lagi hal yang paling aku senangi dan tak pernah merasakan bosan adalah perkataan "kalau sudah sampai SMS ya, hati-hati dijalan" itu adalah wejangan andalan. Aku hampir mengucapkannya tiap hari, semoga dia tak bosan mendengarnya.  Dan hari ini ditutupi dengan senyum indahnya, membuat tidur malam ini jadi nyenyak. Dan itu akan terus berjalan seperti itu setiap harinya.


~ (oleh @dhaniramadhan)

Kebo dan Anak Presiden #8

Keisya benar-benar menghabisiku. Dia orang pertama yang membuatku tak berkutik saat berhadapan dengannya. Semua jurus yang kudapatkan selalu berhasil dipatahkan olehnya. Dia seperti putri yang berada di menara tertinggi. Cantik, tapi tak bisa diraih. Bahkan kalau pun hampir berhasil diraih, ada saja yang membuatku jatuh lagi.
"Bo, kamu itu terlalu terburu-buru," Dimas mengemukakan pendapatnya. Roby mengangguk-angguk setuju disebelahnya.
"Terlalu sombong lebih tepatnya," gumam Niko. Aku mengacuhkannya. Sudah tabiat Niko berbicara dengan bahasa yang tajam.
"Coba pakai cara yang nggak biasa. Selama ini kamu memperlakukannya seperti cewek lain. Padahal kamu tahu kalo dia itu beda." Kali ini Dimas yang manggut-manggut , setuju dengan perkataan Roby.
"Aku kehabisan ide." Roby memandangku prihatin. Terang saja dia begitu. Sang playboy sekolah akhirnya dipaksa bertekuk lutut dihadapan seorang gadis yang bahkan nyaris bukan siapa-siapa disekolah.
"Kalau nggak tahan ya putus saja," Niko menutup buku yang sedang dibacanya dan kembali ke bangkunya. Lonceng masuk telah berbunyi dan guru bahasa Inggrisku telah datang. Tapi otakku dipenuhi oleh kata-kata Niko tadi. Apa iya aku harus putus saja? Ada sepotong kertas mendarat di mjaku. Segera kubuka dan melihat isinya. Otakku mendadak kosong setelah membaca isinya.
Pikir lagi. Apa benar ko sayang ama dia?




~ (oleh @farahpai)

Bagaimana Mencintaiku #7

Joseph:


Cinta dalam kebodohanku


Joseph hadir, disaat aku berduka atas George, cinta pertamaku. Datangnya pun tak terduga, mungkin keberadaannya seperti pembalut luka di hatiku. Entahlah, tapi aku tahu mencintai Joseph adalah kebodohan pertama yang aku perbuat.


Joseph adalah seorang pemain keyboard handal di gereja. Pertama kali aku melihatnya, aku begitu terpesona, begitu menghayati sampai Joseph menangis dan akupun jatuh cinta. Bagiku seorang pria yang bisa menunjukkan sisi sensitifnya di moment yang tepat adalah pria yang romantis, dan inilah awal kebodohanku




- (oleh @siahaanastrid )

Recovery (pt. 2)

"JADI selama DUA BULAN terakhir kamu nikung aku, Dita?"
Hye-jin memberengut dengan mata yang semakin menyipit hampir membentuk garis. Aku tahu, dia dan Lisa pasti tidak tenang selama di kelas tadi karena ingin cepat-cepat menginterogasiku. Akhirnya, aku menceritakan pertemuan-pertemuan dengan Adrian – dengan sedikit editan di bagian malam saat aku kembali ke asrama.
"Ternyata, dia orangnya asyik, ya?" komentar Lisa sambil memotong pizza kimchi hasil eksperimen kami malam ini, ditambah wedang jahe yang aku buat.
"Tapi, tetep aja, Dit, dari jarak kurang dari dua meter auranya itu... langsung bikin speechless!"

"Awalnya, aku juga ngerasain hal itu," sahutku, "tapi, dia bisa ngubah suasana jadi hangat dan nyaman. He's friendly indeed."
"Terus?" Hye-jin jadi semakin penasaran. "Serius kalian cuma ngobrol gitu? There must be something why he's been watching you! Bukan hanya karena review  itu!"
Lisa menunjukku dengan spatulanya. "Idem!"
"Mungkin aja dia jarang ketemu cewek yang baca buku Mitch Albom," gumamku dengan bahu terangkat. Oke, saatnya mengalihkan topik pembicaraan! "Hei, gaun buat farewell party udah siap?"
Lagi, Hye-jin yang paling bersemangat menceritakan gaun modifikasinya. Ibunya seorang desainer terkenal di Korea dan menurunkan bakatnya pada putrinya. Hye-jin memodifikasi hanbok tradisionalnya – bagian lengannya diperpendek sampai sikut dan roknya yang mengembang dipangkas sampai selutut. Sederhana, tapi cantik dan manis dengan perpaduan warna putih dan merah muda.
Lisa tidak suka yang aneh-aneh – apalagi bergaya seperti Lady Gaga. Dia akan memakai tube-dress hitam dan stiletto. Umh, aku dan Hye-jin sudah tidak meragukan akan seelegan dan sesensual apa Lisa nanti. Italian girls, you know that, huh? Sementara aku akan memakai gaun baru rancangan Mitha – greek gown dengan motif batik berwarna biru keunguan.
"Katanya bakal ada guest star juga, lho!" ujar Lisa dengan alis terangkat.
"Si bintang tamu ini juga konon diundang langsung sama Tuan Ryjeka setelah nonton show-nya di New York sama anaknya yang vokalis band itu."

"Semoga bukan Bruce Springsteen, please?!*" kata Hye-jin. "Jangan yang berjaya di era-era Tuan Ryjeka masih muda."
"Nggak, nggak mungkin! Springsteen kemahalan dan Tuan Ryjeka 'senior' gitu juga suka, kok, ngedengerin All Time Low!" sanggahku mantap. Kami tentu tidak akan lupa hari dimana Tuan Ryjeka mengakhiri kelas dengan sebuah pertanyaan, *ada yang mau menemani saya menonton konser All Time Low malam ini?*
Lisa terkikik. "Yang pasti, farewell party-nya bakal keren! Rumah Tuan Ryjeka nggak jauh dari kampus, kan? Masih di sekitar perbukitan Appalachian, deket Sungai Hocking kalau nggak salah."
"That's gonna be an unforgetable party!"
Selesai makan malam, kami memutuskan untuk mengerjakan laporan. Di awal-awal bulan sebagai freshman, aku sempat stress mempelajari berbagai mata kuliah di jurusan ini. Tapi, aku tidak menyerah secepat itu! Nerva dan Mitha sering mewanti-wanti agar aku tidak lalai di dua semester awal dan, ya, hasilnya ternyata mengagumkan. Aku terjebak di sini.
Ponselku berdering saat aku sedang benar-benar konsentrasi menulis. Kalau bukan nama Ares yang muncul di lcd, aku mungkin akan mengabaikannya. Tanganku cepat-cepat menyambar ponsel, lalu keluar dari kamar untuk menjawab panggilannya.
"Ares?" Aku berhenti di ujung lorong asrama yang menghadap langsung ke halaman kampus. Langit malam ini ternyata sangat cerah dengan bintang dan bulan purnama. "Ada apa?"
"Kamu lagi sibuk, ya?"
"I-Iya, lagi ngerjain laporan terakhir."
"Maaf." *Hening sejenak. "Well, kasih kabar ya kalau kamu nanti pulang ke Indonesia*."
Mataku kembali memanas. "Itu sih pasti..."
Sebenarnya, Ares bisa saja mengirim email *atau SMS dan tidak usah repot-repot meneleponku. Jauh lebih murah, kan? Tapi, aku juga tidak menyangkal kalau... aku sangat merindukan suaranya.
"You know what," katanya sambil terkekeh, "tadi aku baru nemuin file di iPhone dan nemu satu audio file rekaman waktu kamu nyanyiin lagunya Tonight Alive itu*."
"AAAHHH!!!" Aku ikut-ikutan tertawa, tapi juga malu. "Terus kamu hapus atau gimana?"
"*Menurut kamu, bagusnya diapain?*"
Aduh, kenapa dia malah balik bertanya? "Aku kan nggak minta kamu rekamin
bagian itu. Jadi, terserah kamu mau diapain juga."

"*Oke*." Dia menarik nafas panjang. "*Aku masukin CD aja nanti*."
"Terserah." Obrolan ini jadi semakin garing. 
"*Uh, aku rasa kamu harus nyelesaiin laporan itu," *jeda sejenak, "Talk to you later, Jardine. Bye."
"*Bye... Sturgess."
Tadinya, aku sempat tergoda untuk meloncat ke halaman di bawah kalau tidak ingat ada laporan yang harus diselesaikan. Mendengar suara Ares tadi... oh, *wake up, wake up!!!*
Tinggal tiga minggu lagi, Dita, dan kamu akan pergi dari negara ini!


* **One last phone call from you, it wouldn't hurt too much*
* **Just like to hear your voice and pretend to touch*
* **Any inch of you that han't said it all or read it all or sung
*

* **My life away...*
(*Stars and Boulevards *- Augustana)
***


~ (oleh @artemistics)

Di sini Drama Dimulai PART #2

... "Maafin aku, Ya.." Aku masih mengemis-ngemis ke Arya.
Begitu masuk rumah, Arya langsung duduk di depan TV dan menonton, tak menghiraukan aku.
Lalu aku duduk di sebelahnya, sambil terus terisak dan masih mengemis-ngemis permohonan maaf.
Arya masih tak menghiraukan aku, sampai hp-ku berbunyi.
Dani's calling.
Aku angkat teleponnya, menjauh dari Arya. Masih sesenggukan, aku menjawab telepon Dani.
"Ya Dan?"
"Lagi dimana, non? Sms gue kok gak dibales?" Ternyata Dani hanya berbasa-basi.
Agak menyesal juga ngangkat teleponnya,"Dan, nanti aku telepon balik yah.. Sorry.. Sorry."
"Eeh eh? Lu nangis yah, Sar? Sar? Lu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa, Dan.. Udah dulu yah.."
Aku putuskan sambungan via satelit itu, Arya tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Tiba-tiba nyeret tanganku dengan kasar, aku dibawanya ke kamarnya, dibanting ke kasurnya dan #DZIG mukaku ditonjoknya dengan 2 tangan, ditendang juga.
Aku berusaha melindungi diriku sendiri, aku silangkan kedua tanganku dimukaku. Aku memohon ampun sambil terus menangis.
Arya seperti kerasukan setan.
Dia tidak mendengarku menjerit kesakitan. Aku berusaha mengelak, melarikan diri menuju pintu, Arya menjambakku, menarikku lagi kali ini aku dibanting ke kolong ranjangnya.
Darah keluar dari hidungku daritadi, sekarang aku rasakan perih dipelipisku, ada darah juga mengalir di sana.
"Ampuuun, Ya... Ampuuuunnn! Astaga!" Aku hanya mampu berbisik, sudah nggak ada lagi tenaga yang tersisa. Aku berhenti berontak, aku berhenti melindungi diriku, aku capek sekarang aku pasrah.
Arya masih marah, ia masih menendang-nendangku, menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja. Sambil berteriak kata-kata kotor, "Anjiiing! Bangs*t!" Teriaknya.

Siapa dia? Aku seperti tak mengenalnya. Bukan Arya pacarku, bukan Arya yang aku kenal 3bulan ini. Bukan Arya yang selalu melindungiku, bukan Arya yang selalu menggenggamku ketika mengantarku dari turun mobil sampai depan pintu rumah.
Siapa dia?

Semakin aku melemah, semakin aku pasrah, Arya pelan-pelan berhenti.
Dia lalu duduk di sampingku, mengangkat kepalaku yang berceceran darah, kepangkuannya. Arya menggenggam erat tanganku, lalu menciumnya. Terasa ada air mata menetas di punggung tanganku.

Aku lemas, aku pusing, aku nggak bisa berbuat apa-apa, aku cuma merasakan hangat peluk Arya, sambil membisikkan maaf.
Aku benar-benar nggak mengenal orang ini. Semenit yang lalu udah kayak gorilla ngamuk yang hutannya kebakaran, sekarang malah kayak ibu Kangguru yang sangat ngelindungin anak dikantongnya. Arya minta maaf, dia bilang dia menyesal, dia memelukku erat sekali.
Dia mengangkatku, lalu merebahkannya di kasur. Lalu dia pergi meninggalkanku sebentar, lalu balik ke kamar dengan sebaskom air dan handuk bersih. Dia mengompresku, mengompres luka-luka pukulannya di wajahku, satu tangannya menggenggamku.

Besok paginya, aku terbangun dengan Arya masih terlelap di sampingku. Kepalaku masih pusing. Tapi sudah ada plester menempel di pelipis kiriku.
"Ya.. Bangun Ya.. Pindah kesini!" Aku menyuruhnya pindah, karena posisi tidurnya dia nggak nyaman sekali. Duduk di lantai, kepala ke ranjang tapinya. Kasian pegal.
"Mau kemana?" Tanya Arya menahanku.
"Ambil minum, Ya.. Haus."
Arya terduduk di sebelahku, "Maafin aku, Sar.. Maaf!"
Aku dipeluknya lagi, hangat. Aku memeluknya balik. Mungkin memang bukan sepenuhnya salah Arya. "Maafin aku juga, Ya!"



~ (oleh @_citz)

BELLA DAN MORIS

Mencoba meresapi perasaan Bella saat ini.
Cinta seperti apa yang dimiliki Bella untuk Moris.
...

Plak!

"Bel, come on! I love you so much. Please leave him."
Itu adalah suara tamparan tanganku yang mendarat di pipi Bella disertai kata-kata terakhirku kepada Bella sebelum dia berlari kencang dengan derai air mata.
Ya, kami bertengkar hebat.
Sebagai sahabat aku peduli akan hidupnya. Aku benci keadaan ini. Aku sudah bersabar terlalu lama, namun Bella tidak juga memberi keputusan.
"This is my life Yol! Just go away! Leave me alone!"
"Iya, gw tau Bel..tapi lo ngga bisa egois begini. Lihat mami lo, udah stress Bel mikirin anak perempuan dia satu-satunya pacaran sama orang yang ngga akan mungkin dinikahi. Lo egois Bel!"
"Jangan bawa-bawa mami Yol!"
Bella mulai mempercepat langkahnya untuk menghindari aku.

"Tapi ini kenyataan!"
"Gw ngga bisa tinggalin Moris, Yol..."
Suara Bella melemah, ia merapatkan badannya ke tembok, seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Putuskan hubungan lo sama Moris!"
Aku membentak dengan keras.

"Hei! Stop! Jangan urus hidup gw! "
"Gw peduli dengan hidup lo! Putusin Moris sekarang!"
"Nggaaak!"
Kali ini Bella berteriak dengan kencang.
Mata kami beradu. Ada amarah kutemukan di kedua bola matanya.

"Lo urus hidup lo sendiri! Lo cari cowo buat diri lo sendiri! Lo iri kan sama gw? Kenapa? Lo kalah cantik sama gw?"
Kata-kata Bella yang begitu sinis membuat emosi ku tak tertahankan lagi. Darahku seperti mendidih hingga terjadilah peristiwa tamparan itu.
Bella, maafkan aku.
___

Aku bertemu Bella dan Moris di kampus. Kala itu kami sama-sama anak baru.
Bella datang dari Kalimantan, sama seperti aku, anak daerah. Sedangkan Moris asli anak Jakarta.
Lucu sekali kalau mengingat bagaimana kami berkenalan.

Saat itu kuis mata kuliah sejarah. Sudah 1 jam berlalu dan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Selamat pagi pak. Maaf telat ya pak."
Hmm..siapa anak ini ya? Pikirku..
"Kamu siapa? Kelas ini lagi tes!"
Suara pak Anwar terdengar keras sekali di ruangan.
"Moris pak.." Jawab laki-laki ini santai.
"Ada apa?"
"Mau ujian pak."
"Kamu mau ujian? Ini tinggal 30 menit lagi."
Aku semakin penasaran.. Siapa sih dia ini.. Kalau aku perhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki, bajunya kusut dan sepertinya dia belum mandi..
"Beres pak.. Boleh masuk ngga nih? Saya anak kelas C, cuma saya ogah ikut ujian nanti jam 4. Ikut sekarang aja ya pak?"
Dengan gaya cuek dia seolah menantang pak Anwar.
"Kamu itu macam berandalan! Ok, saya cuma kasih kamu waktu secukupnya, tidak akan ada waktu tambahan! Ingat itu! Cepat masuk!"
"Beres pak.." Jawabnya enteng.
Dia pun segera mencari kursi kosong untuk duduk, dan dia memilih kursi kosong yang ada di antara aku dan Bella saat itu.
"Misi, gw duduk sini ya"
Sebelum kami menjawab, dia langsung duduk, mengeluarkan alat tulis dan mulai mengisi jawaban dari tes Sejarah dari pak Anwar.
Sungguh aneh anak ini.
Walaupun tampangnya kusut dengan baju yang berantakan, tapi bisa dikatakan dia cukup wangi. Tercium aroma parfum di hidungku. Memang sepertinya sudah agak lama disemprotkan, tp wanginya masih tercium samar-samar.
Dia ini juga penuh konsentrasi dalam menjawab lembar tes. Jawaban mengalir dengan cepat dan sempat membuatku bingung, karena aku sendiri sudah 1 jam lebih berlalu masih mengisi tiga dari lima soal. Tes sejarah ini hampir membuatku gila pikirku.

"Oke, 15 menit lagi!"
Suara pak Anwar mengagetkanku.

Apa? 15 menit lagi? Mati aku! Tanpa sadar aku menepuk jidatku sambil mulai berpikir keras.
Tiba-tiba..

"Nih..aku udah, tulis cepet!"
Suara kecil samar-samar itu membuatku mengeryitkan dahi.
Laki-laki ini, dia memberikan aku contekan! Sungguh dilema, tapi apa boleh buat, masih ada dua soal belum terjawab..
Dengan cepat aku mengangguk dan tersenyum sambil mencotek habis isi jawaban dua nomor soal terakhir.

Ya Tuhan..maafin aku ya.. Aku mencontek.
Aku berkata dalam hati.

Di saat aku sedang dengan kecepatan tinggi mencontek, tiba-tiba terdengar kembali suara setengah berbisik..
"Udah, tulis aja.. Nanti nilaimu jelek loh.."
Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke samping kiri. Ya ampun..dia menawarkan contekan pada mahasiswi lain juga!

___

"Aku Yolanda, bisa dipanggil Yola."
"Bella."
"Gw Moris,"
Kami saling berjabat tangan.
"Terima kasih ya Moris. Aku ngga tau deh, kalau ngga ada contekan tadi bisa gak lulus mata kuliah Sejarah sepertinya." ucapku.
"Ngga apa-apa, santai aja lagi. Gw udah ngulang ketiga kalinya kelas ini. Heran deh, ngga lulus-lulus gw!"
"Hah, sudah tiga kali?" Bella terkaget-kaget.
"Yoi.. Jadinya gw udah hapal sama jawaban kuisnya. Pertanyaan nya itu mulu!"
Kami tertawa sambil melanjutkan perkenalan kami di kantin kampus.
"Jadi Bella dari Kalimantan.. Wah jauh juga ya.. Aku dari Solo..tapi sudah empat bulan terakhir ini di Jakarta, ikut tante."
"Iya Yola.. Bantu aku cari kos-kosan yuk.. Aku masih menginap di hotel sekarang dengan mami.. Kalau bisa sih dalam waktu dekat bisa kos saja.. Mahal juga ya biaya hidup di Jakarta.. Hahaa.."
"Kamu tinggal di rumah tante aku aja, hitung-hitung kos juga, tapi kan bareng aku. Dulu waktu baru tiba di Jakarta aku juga tinggal di rumah tante dengan sahabatku Patty. Sayangnya, Patty harus pergi jauh sekarang karena dapat beasiswa ke Jerman."
"O..begitu.. Boleh juga, jadi kita bisa sama-sama ya berangkat kuliah nya."
"Atau mau di rumah gw aja Bel? Ga ada siapa-siapa kok, cuma gw sama bibik.."
Moris menyambar pembicaraan kami dengan lirikan menggoda ke arah Bella.
"Aduh..kamu ya Moris..baru kenal sudah nakal.." Balas Bella.
"Namanya juga usaha.."
Kami pun kembali hanyut dalam tawa dan begitu cepat akrab.
___

Itu adalah kisah aku, Bella dan Moris sepuluh tahun yang lalu.

Berawal dari sebuah persahabatan hingga akhirnya timbul benih cinta di antara Bella dan Moris.
Mungkin bukan hal besar jika itu hanya sebuah kisah cinta yang terbangun dalam persahabatan.
Cinta Bella dan Moris di mulai saat kami di tingkat dua. Cinta yang terbangun dan terpelihara selama delapan tahun sudah. Sebuah jalinan cinta yang penuh dengan senyuman, tawa, liku-liku, air mata hingga menuju pada kematian.





~ (oleh @kakakPur)