Jogja
Langit duduk tertunduk bersandar pada dinding kaca. Sedang aku menatap lurus ke luar
jendela, memandangi jelang senja yang perlahan mendung, seperti mewakili
perasaan Langit yang sama mendung.
"Tidak bisakah kita menyembunyikannya saja?"
"Menyembunyikannya sampai kapan? Apa bisa membangun hidup
dengan berpura-pura lupa?"
"Aku bisa...aku bisa demi kamu, bersamamu Pelangi...".
Pertama kalinya Langit terisak. Untukku, dan sungguh tak pantas!
"Kamu berharap aku menyakitimu lebih dan lebih lagi?"
Ku hampiri Langit, membenamkan pilunya dalam pelukku.
"Maaf...maaf...".
Tidak bisa menyakitimu lebih dari ini...
"Tidak seharusnya kupertemukan kamu dengan Bumi..harusnya
tak ku biarkan kalian menghabiskan banyak waktu bersama...Harusnya tak ku
biarkan lagi Bumi berada di antara hidupku dan perempuan yang ada di
sampingku!".
"Hentikan Langit!" Ku paksa Langit menatapku. "Rekam Imaji
ada sebelum kamu datang...merindunya adalah salahku...".
"Lalu salah siapa tetap menikmatinya ketika seharusnya ia
tahu bagaimana cara melepasmu? Salah siapa tidak memiliki nyali untuk menahanmu
sebelum aku meminangmu?..."
Aku diam...aku belum mendapat jawabannya dari seorang
Bumi...
Jogja, awal Januari
"Benar tidak perlu mengatakannya kepada Bumi?"
Aku menggeleng. "Begini saja dulu...".
Langit mengecup dahiku, "hubungi aku kapanpun. Ini.." ia
menunjukkan sepasang cincin yang menggantung sebagai liontin kalung yang
melingkar di lehernya. "Masih selalu untukmu."
Aku tersenyum, "simpanlah untuk wanita yang benar
menumpahkan penuh hati dan rindunya untukmu. Suatu hari...bawalah padaku, biar
ku lihat seperti apa wanita cantik yang merebut hati Langit-ku."
Kami terkekeh. Sekali lagi saling tatap. Melepas Langit
sungguh adalah kebodohan terbesar. Melepas pria yang sungguh tulus memberikan
hati dan hidupnya padaku. Sungguh aku berusaha mencintai Langit, belajar...tapi
belajar sampai kapan? Sedang setengah hati seperti terikat mati pada Bumi,
berpasangan serasi dengan rindu yang sakitnya hingga menyayat hati.
"Sampai kapan kamu akan di sini?"
Terakhir kalinya kami bergandengan tangan, menyusuri lorong
stasiun yang hingar bingar. Sepasang usia senja berpelukan. Sang wanita
sumringah di antara garis tua di wajahnya, menyambut kekasih yang akhirnya
pulang.
"Salah satu yang ku kagumi dari seorang wanita...".
"Apa?"
"Keteguhan hati,..."
"Untuk menunggu?"
"Mungkin...aku tidak pernah tahu dari mana nyali menunggu
itu datang."
"Hemm...andai aku pria beruntung yang kamu tunggu itu."
Aku hanya tersenyum, karena aku saja tidak tahu mengapa
harus Bumi yang aku tunggu.
"Baiklah..keretaku sudah datang."
Sekali lagi Bumi menatapku. "Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku juga...berbahagialah."
Bumi...apa warnamu
sebenarnya? Kalau kamu sehijau dedaunan di dalam hutan, maka ijinkan aku
menjadi coklat seperti tanah dan batang pohon tempatmu tinggal. Kalau kamu
sebiru lautan, izinkan aku menjadi sewarna pasir pantai yang sering kau
singgahi kala pasang. Kalau kamu sehijau hamparan ilalang, ijinkan aku menjadi
kuning yang kau letakkan dipuncak hingga ketika senja datang membaur bersama
nila. Kalau kamu sebiru langit kala pagi tanpa mendung, maka biarkan aku
menjadi seputih awan yang berarak seperti dalam dekapmu...
Keteguhan hati untuk menunggu...menunggumu Bumi. Dan
entahlah...sama seperti ketika aku belajar menempatkan Langit di hatiku, entah
sampai seberapa batasan belajar ada dalam diriku. Sampai akhirnya ku lepaskan, bukan
menyerah, tapi menempatkan rasa di tengah rindu dan rasa yang lain bukanlah
perkara mudah. Apalagi kini ketika dihadapkan pada temu dan sentuhan yang
seharusnya hanya menjadi milik Langit.
Aku tidak akan mengerti apa rencana Tuhan ketika
mempertemukanku dengan Bumi dan Langit. Yang jelas, aku tidak ingin
menyandingkan keduanya dalam ruang hati yang sama. Langit selalu menjadi sosok
yang nyata, bersamanya, mungkin saja aku akan menikmati hubungan aman tanpa
perlu menemui kegagalan lagi. Rindu tanpa ragu dan tahu di mana harus
menempatkan rindu.
Sedang Bumi, terlanjur menikmatinya sebagai imaji adalah
salahku, hingga tak tahu cara membedakan rindu ini nyata atau hanya imaji. Ada
rasa dengan percik kasmaran atau hanya keingintahuan.
Aku tidak ingin bertemu Bumi dalam rasa seperti ini, rasa
yang dulunya hanya ku kenal sebatas imaji dengan rindu yang menggebu hingga
tumpah ruah dalam Rekam Imaji, tapi kini justru ku pertanyakan sendiri.
Bagaimana ketika Bumi dan temu adalah nyata? Lalu apa setelah temu? Bersama,
hidup bahagia selamanya? Apa sesimpel itu? Apa nyaliku telah sampai pada
tahapan itu? Apa...Bumi memiliki nyali menjadi sepasang hingga senja?
Sesungguhnya bukan
rasa yang ku sangsikan, tapi nyalimu. Setelah sekian waktu ku pertaruhkan nyali
dan tunggu..aksaramu kadang bisu, kadang lisanmu merayu, ulur hati dan waktu.
Kamu Cuma tahu menimbang rasamu..Menunggumu kadang serasa sia belaka,
mencintaimu, mempertaruhkan nyali hingga tak setetes tersisa.
dan waktu.
Kamu Cuma tahu menimbang rasamu..Menunggumu kadang serasa sia belaka,
mencintaimu, mempertaruhkan nyali hingga tak setetes tersisa.
~ (oleh @NadiaAgustina)
21 September 2011
Serpihan Rasa Itu
"Eh, Sam, ngapain lo disini? Lo ngekor kita bedua tadi?"
"ngapain tuh si Fany ama Indra beduaan? Pake pegangan tangan lagi"
"ya lo liat aja"
"An lo mending jauh dari sini deh, gue mau ada urusan sama si Fany"
"ogah ah gue udah janji, sama Fany bakal jagain dia kalo si Indra kenapa-napa"
"lo mau Irfan gue gebukin ?"
"eh, jangan!!"
"makanya lo jauh-jauh dari sini"
"Iya gue pergi, tapi gue Cuma minta 2 aja"
"apa?"
"pertama gue minta lo jagain Fany, gue takut temen gue di macem-macemin sama Indra"
"alah udah lahh gampang mahh itu"
"satu lagi !!, gue minta tolong lo jangan apa-apain Irfan ya"
"Kalo itu sih gampang, kalo lo nurut apa kata gue"
Beberapa percakapan tersebut akhirnya menyebabkan menjauhnya Moan, dari tempat ia mengintai Fany. Dari posisi Moan tersebut akhirnya digantikan oleh Sam. Moan terpaksa menyerahkan Fany pada Sam, tentu saja dengan ancaman keselamatan Irfan menjadi ancaman Sam. Dengan langkah ragu, Moan meninggalkan sahabat sebangkunya itu. Rasa bersalah yang besar ada dalam hati Moan. Sementara itu Sam yang menggantikan posisi Moan akhirnya menguping pembicaraan Indra dan Fany.
"Fan, gue gak yakin buat ngomong ini" dengan posisi masih mengangkat tangan Fany
"to the point please !!"
"oke aku usaha berani buat bilang ini, gue suka sama lo, lo mau jadi pacar gue? Please, gue yakin bakal setia kok di singapur nanti, biarpun bakal long distace. Baru lo yang bikin gue kayak gini"
"Sorry, gue tolak, males gue liat cowok kayak lo" Fany akhirnya melepas tangannya dari indra dan bergegas kabur
Langkah Fany semakin cepat, tanpa peduli Moan ada disitu apa tidak. Langkah kaki Fany menuju kerumahnya semakin cepat. Sam yang dari tadi menguping pembicaraan Fany dan Indra tentu saja cukup geram. Melihat Indra yang sendirian Sam rasa ini bisa jadi waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran pada Indra. Sam akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan mengambil langkah seribu mendekati indra. Sembuah tonjokan melayang ke wajah Indra yang mengakibatkan terjatuhnya Indra. Tangan Sam menarik kerah seragam Indra.
"Lo dasar cowok anjing!!"
"sebentar, maksud lo apa ?"
"lo nembak Fany kan tadi, lo ngaku aja gue dengar lo ngomong apa aja" satu tonjokan lagi melayang ke wajah indra sampai hidungnya terlihat berdarah.
"Gue gak ngerti maksud lo apa?, so kenapa kalo gue nembak Fany?"
"Lo gausah dekatin Fany, sekali lagi lo nyentuh dia, lo mati tau gak !!!"
Dengan luka lebam tersebut, indra hanya terdiam. Sam dengan amarahnya melepaskan cengkraman tamgannya di kerah Indra. Dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
*-*-*-*
"Fan, sorry tadi lo gue tinggal, bokap gue nelfon nyuruh gue cepet pulang"
Pesan tersebut masuk dalam Chat List Handphone Fany. Tentu dari Moan, Fany baru sadar meninggalkan Moan disitu. Namun dengan pesan yang dikirim Moan padanya akhirnya membuat Fany lega. Namun yang sekarang menjadi beban pikiran Fany adalah apakah sikapnya tadi pada Indra tidak kelewatan? Wajah kecewa berat memang muncul di wajah Indra, But who's care ?. Bagi Fany, hal seperti itu jangan dijadikan beban pikiran.
To Be Continued…
Special for Samara Astarina J GBU sist
~ (oleh @iimamf)
Aku Baik-Baik Saja
"Eh, maaf. Gue gak maksud apa-apa, Vin." Helmy merasa tidak enak dengan ceritanya kepadaku.
"Nggak apa-apa, kok," aku tersenyum, lalu menyentuh pundaknya, "yang sabar, ya. Om kamu sudah tenang di sana. Kirim doa terus."
Ada ketakutan yang kembali merambahi diriku. Dokter Riana pun sempat mengatakannya padaku, kemungkinan untuk kambuh lagi begitu tinggi. Ditambah lagi beberapa bulan setelah kemoterapi itu aku batuk terus menerus, walau memang ini biasa. Namun, aku berusaha tidak menggubris kata-kata dokter Riana. Aku ingin merasa benar-benar sembuh, seakan kanker itu tak pernah ada dalam tubuhku.
***
Aku diam seribu bahasa ketika mama memanggilku dari bawah. Aku harap mama mengira aku masih tidur, atau sedang berkecimpung dengan gemuruh air di kamar mandi. Entah, seakan pita suaraku diikat kuat-kuat sampai tak kuasa bergetar.
Aku buru-buru mengikuti sarapan bersama. Ada mama yang sedang menikmati nasi goreng buatannya sendiri, dan Reno yang masih berkutat dengan buku sekolahnya; mungkin tugas sekolah.
"Vin, baru bangun, ya? Dari tadi dipanggilin ngga nyaut."
Aku hanya mampu tersenyum. Sebenarnya, aku tak ingin sarapan, apalagi dengan menu nasi goreng. Kau tau? Saat-saat sedang sesak seperti ini, aku tak sanggup menelan makanan meski kukunyah selumat apapun. Makanan terasa bertengger di dadaku, seakan tak ingin jatuh ke lambungku. Namun, jika aku memutuskan untuk menghindari sarapan pagi ini, mama pasti akan curiga. Dan aku pun, ingin menepis semua ketakutan dalam dadaku. Aku yakin ini hanya faktor cuaca pagi yang beku.
"Vin, kamu sakit? Kok pucet gitu?"
Aku menggeleng perlahan.
Mama menaikkan kedua bahunya.
"Kakak, ini maksudnya apa, sih?" Reno menunjuk salah satu nomor di buku sekolahnya, matanya masih terpaku dan mengerut kebingungan.
Aku tak paham apa yang harus kulakukan. Aku tak dapat berkata sepatah kata pun, bagaimana aku dapat menjelaskannya?
"Vin, jawab tuh." Mama seakan mengerti.
Aku membisik di telinga mama, dengan sekuatnya aku berusaha mengucap sepatah duapatah kata, "Vina sesak." Entah itu cukup ditangkap, atau tidak. Tapi mama mengerti, aku yakin.
"Kita ke dokter Riana sekarang."
Aku menurut. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja.
***
"Revina Karina..." Aku masih hafal suara suster itu.
Kami masuk.
"Hallo, sayang... Gimana keadaan kamu?" Kami bersalaman hangat.
"Ini, dok. Vina mengeluh sesak nafas, dari beberapa waktu yang lalu juga dia batuk-batuk terus."
Dokter Riana mengerutkan dahi, "kita periksa, ya."
Aku menjalani pemeriksaan seperti yang lalu. Aku mulai merasa tak nyaman. Tapi aku harus yakin, bahwa aku tak apa-apa.
Aku baik-baik saja!
Meski tubuhku seakan tak mengizinkan mengkonfirmasi hatiku.
Tuhan, berikan yang terbaik untukku.
~ (oleh @LandinaAmsayna)
"Nggak apa-apa, kok," aku tersenyum, lalu menyentuh pundaknya, "yang sabar, ya. Om kamu sudah tenang di sana. Kirim doa terus."
Ada ketakutan yang kembali merambahi diriku. Dokter Riana pun sempat mengatakannya padaku, kemungkinan untuk kambuh lagi begitu tinggi. Ditambah lagi beberapa bulan setelah kemoterapi itu aku batuk terus menerus, walau memang ini biasa. Namun, aku berusaha tidak menggubris kata-kata dokter Riana. Aku ingin merasa benar-benar sembuh, seakan kanker itu tak pernah ada dalam tubuhku.
***
Aku diam seribu bahasa ketika mama memanggilku dari bawah. Aku harap mama mengira aku masih tidur, atau sedang berkecimpung dengan gemuruh air di kamar mandi. Entah, seakan pita suaraku diikat kuat-kuat sampai tak kuasa bergetar.
Aku buru-buru mengikuti sarapan bersama. Ada mama yang sedang menikmati nasi goreng buatannya sendiri, dan Reno yang masih berkutat dengan buku sekolahnya; mungkin tugas sekolah.
"Vin, baru bangun, ya? Dari tadi dipanggilin ngga nyaut."
Aku hanya mampu tersenyum. Sebenarnya, aku tak ingin sarapan, apalagi dengan menu nasi goreng. Kau tau? Saat-saat sedang sesak seperti ini, aku tak sanggup menelan makanan meski kukunyah selumat apapun. Makanan terasa bertengger di dadaku, seakan tak ingin jatuh ke lambungku. Namun, jika aku memutuskan untuk menghindari sarapan pagi ini, mama pasti akan curiga. Dan aku pun, ingin menepis semua ketakutan dalam dadaku. Aku yakin ini hanya faktor cuaca pagi yang beku.
"Vin, kamu sakit? Kok pucet gitu?"
Aku menggeleng perlahan.
Mama menaikkan kedua bahunya.
"Kakak, ini maksudnya apa, sih?" Reno menunjuk salah satu nomor di buku sekolahnya, matanya masih terpaku dan mengerut kebingungan.
Aku tak paham apa yang harus kulakukan. Aku tak dapat berkata sepatah kata pun, bagaimana aku dapat menjelaskannya?
"Vin, jawab tuh." Mama seakan mengerti.
Aku membisik di telinga mama, dengan sekuatnya aku berusaha mengucap sepatah duapatah kata, "Vina sesak." Entah itu cukup ditangkap, atau tidak. Tapi mama mengerti, aku yakin.
"Kita ke dokter Riana sekarang."
Aku menurut. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja.
***
"Revina Karina..." Aku masih hafal suara suster itu.
Kami masuk.
"Hallo, sayang... Gimana keadaan kamu?" Kami bersalaman hangat.
"Ini, dok. Vina mengeluh sesak nafas, dari beberapa waktu yang lalu juga dia batuk-batuk terus."
Dokter Riana mengerutkan dahi, "kita periksa, ya."
Aku menjalani pemeriksaan seperti yang lalu. Aku mulai merasa tak nyaman. Tapi aku harus yakin, bahwa aku tak apa-apa.
Aku baik-baik saja!
Meski tubuhku seakan tak mengizinkan mengkonfirmasi hatiku.
Tuhan, berikan yang terbaik untukku.
~ (oleh @LandinaAmsayna)
L.O.V.E. at R.O.F.L.
Gaswat. Ketangkep basah. S-O-S. Ada nongkrong lanjutan? Pigimane ini, Maliih???
~ (oleh @retro_neko)
Gue pandangin lagi message yang gue kirim lewat BBM ke Melanie 10 menit yang lalu. Duh, masih D, belum R. Berarti Melanie masih beromantis-ria sama Davi dan belum sempet liat pesan maha penting dari gue. Alamat gue harus nemuin cara buat hadepin si cowok penyihir satu itu.
Seraut wajah Ben Stiller dari film Zoolander balik menatap gue. Tom Crooze, sentilan kacau dari Tom Cruise, manusia ternarsis yang pernah ada. Ah, kalo aja Tom Crooze mau menzakatkan 2,5% dari kepedeannya buat gue sekarang. Bener-bener gaya gue RIP, masuk liang kubur, mati!
Sebenernya, secara naluriah, gue merasa cocok dengan tempat ini. Namanya, ROFL, cuplikan dari istilah dunia maya Rolling On the Floor Laughing alias ketawa guling-guling. Aura komedinya begitu kental terasa. Muka para komedian terkenal bertebaran di mana-mana, mulai dari penghias interior sampai ke pengunjungnya. Ditambah fasilitas fun-room yang isinya sederet buku-buku humor dan sebuah layar yang menayangkan film atau talkshow komedi, dikelilingi sofa-sofa empuk. Emang rasanya pengen guling-guling terus di tempat ini. Nyaman banget buat penggemar dunia kocak macem gue.
Masalahnya, orang yang ngajak gue ke sini itu yang bikin gue nggak nyaman. Cowok yang jago mengocok perut dengan leluconnya dan membuat isi perut gue ikut nggak karuan gara-gara nyoba bersinkronisasi dengan jantung yang berdebar. Bentar lagi bulu roma gue ikutan joget, ngikutin bulu dada Bang Rhoma yang bergoyang ala Satria Bergitar.
Hey, betah bener di toilet. Lagi flirting sama Tom Crooze ya? Gue di table 7, waiting for you until that funny feeling in your tummy is gone :)
Tuh, kan! Ian si Mentalis mulai ngebaca gue lagi. Sebenernya dia tuh komedian apa tukang hipnotis sih? Gue ngaca, coba nyari apa ada keringet segede-gede biji jagung yang bikin Ian narik kesimpulan kalo gue segitu parah groginya. Dang! Sebuah wajah plongo balas memandang. Ah, cinta memang gila. Tak kenal permisi. Om Bagus emang bener, main nemplok aja panah Cupid, bikin kita jadi mikir kalo bumi itu nggak bulet, tapi kotak pletat pletot mirip batagor.
Gue tepuk keras dua bakpau di pipi, sambil teriak, "Kamu bisa!" Ini mau nge-date apa naik ring tinju sih? Ah, percaya sama gue. Mike Tyson kalo tiap bulan mens juga lebih milih adu jotos sama emak-emak rebutan midnight sale ketimbang ngadepin orang yang bikin dia nggak enak makan nggak enak tidur.
It's now or never! Garuda di dadaku! Cicak-cicak di dinding!
Pintu toilet gue dorong dengan penuh keyakinan. Langkah gue diayun tegak, percaya diri setingkat Briptu Norman, dan alunan lagu Chaiya Chaiya mengiringi hembusan angin di rambut gue. Bentar lagi gue muter-muter petak umpet di tiang-tiang pondasi proyek fly over, ketemu sama siluman berefek visual kelas teri, dan naik burung gede yang sayapnya keliatan digerak-gerakin pake tali tambang. Bisa liat tulisan "produksi Gentabuana Pitaloka" di bawah, kan? LE to the BAY!
*DEG*
Argh. I saw that amazing eyes again.
Mata coklat Ian bersinar terang hemat energi bertumbukkan dengan mata belo gue, begitu ngeliat gue udah duduk berhadapan dengannya. Cengiran jahilnya nongol lagi sambil berujar, "Udah puas foto-foto miring 45 derajat sama Mas Ben di dalem?"
Crap. Dia liat profile picture baru messenger gue. Bukti otentik kebersamaan kilat gue sama Tom Crooze barusan. Yak, segitu kurang kerjaannya gue nyempetin cekrak cekrek narsis di dalem. Well, I cannot resist the Crooze-charm-ism. Udik tapi asyik, seakan nempel di jidat gue waktu foto-foto ababil tadi.
"Relax. Gue juga nggak nahan liat Mister Item di toilet cowok," hibur Ian ngeliat air muka gue yang udah pengen ngumpet di dalem panci tukang bubur ayam. Sejurus kemudian, sebuah foto terkirim ke messenger gue. Begitu gue buka, pose kacrut Ian berpadu dengan gaya tengil Jack Black terpampang begitu saja di sana.
Gue ngikik seketika dan sebuah perasaan lega menyelinap di hati gue saat itu juga. He's nice. "Simpen aja, Ri. Kali aja ntar lo bisa iseng edit lagi pake Photoshop trus lo posting di Kaskus. Ntar gue yang pertamax-in buat lo," seloroh Ian tiba-tiba, bikin gue kaget karena sadar dia mulai menghilangkan jarak di antara kita.
"Siap, Komandan! Jadwal editnya ngantri ya. Udah dibooking duluan sama foto tikus-tikus sawah yang pengen dipermak pake bedak 7 lapis, biar bisa manggung lipsync di musik pagi tiap hari," sahut gue asal-asalan.
Ian ketawa dengan suara basnya birama 4/4, sebuah suara yang menyadarkan gue kalo malem ini nggak berakhir bencana dan segala ketakutan akan larinya cowok gara-gara celetukan lenong gue kabur begitu saja tanpa pamit.
"Oya, Ri. Sori banget. Temen-temen komtung gue ternyata lagi jalan ke Bogor. Ada audisi Stand Up Comedy besok di sana. Yang oke, bakal ditampilin di TV. Beberapa temen gue ikutan jadi panitia dan juri. So, it's just us for tonight," jelas Ian, memberi penekanan di kalimat terakhirnya. Gue coba menguasai diri dari kegirangan yang amat sangat, ketiban duren setruk ini namanya!
Ian menambahkan, "Dare to open yourself tonight, Miss?" Gue pun nyengir, sambil menjawab mantap, "I thought you'd never ask, Johnny Boy."
Malem itu, kita ngobrol seenak udel sampe perut dan rahang gue sakit kebanyakan ketawa. Satu pitcher lemon tea nggak kerasa ludes bersama dua piring french fries. Ngobrol ngalor-ngidul tentang macem-macem. Dari kisah-kisah masa kecil kita, segala titik koma dunia humor yang bikin kita tergila-gila, ngebahas film-film komedi favorit, rasanya gue nggak pengen pulang. Tahu-tahu jarum-jarum di jam tangan gue nunjukin waktu 1.30 dini hari. Sepetnya mata gue mencubit dan ngingetin gue kalo gue harus pulang ke kasur empuk tersayang.
Di perjalanan nganterin gue balik ke kos, percakapan kita mendadak berubah tone menjadi lebih serius. Entah siapa yang akan jadi narasumber dan moderator. Yang pasti, pagar kos gue nanti bakal jadi pengingat habisnya durasi tayangan manis malem ini.
Awalnya, Ian melontarkan pertanyaan mengejutkan. "Ri, kenapa lo harus nutupin diri lo yang sebenernya sih? I know you're not a superhero or cape crusader with latex clothes and dreadful mask," tanya Ian sambil menyetir cukup pelan menembus malam. "I'm afraid of being funny. Nggak semua orang seneng diajak ketawa, Yan," ujar gue lirih. Jidat Ian berkerut bingung dan alisnya ikut meliuk. "Maksud lo gimana, Ri?" tanya Ian kembali.
*SIGH*
Tiba juga saatnya gue menceritakan semua kutukan itu. Berurutan gue menuturkan satu per satu pengalaman gue terhadap cinta dan para cowok yang anti humor itu. Herannya, gue bisa begitu tenang menceritakan semuanya. Seakan ada kekuatan yang mendorong dan meyakinkan gue kalo kali ini bisa jadi akhir dari kutukan mengerikan itu.
"Wow," satu kata tercetus dari mulut Ian. Mungkin dia bingung, melihat ada cewek yang bisa dengan tenang menceritakan kisah-kisah asmara kandas tanpa emosi jiwa dan tangis menderu. "Yah, begitulah sisi gelap hidup gue, Yan. Gelap yang gue tinggalin dengan lari sekenceng-kencengnya ke depan," sahut gue dengan nada optimis.
Ian tersenyum, kemudian kembali mengejutkan gue dengan pernyataannya. "What does EPIC feel?" tanyanya. Gue bingung, kenapa jadi tes Bahasa Inggris begini tengah malem? "Maksud gue, gimana rasanya seperti di kaos lo itu. Ketemu sama versi cowok dari diri lo sendiri," jelas Ian, menjatuhkan bom lagi di perut gue.
HEEEEHHH???!!
"Yan, kita bukan kembar yang tertukar kan ya?" suara gue mulai tercekat. Tawa Ian meledak sambil (tanpa diduga) mengelus-elus rambut gue. "Kita punya benang yang sama, Ri. Kelucuan kita nggak bisa bikin orang yang kita sayangin tertawa bahagia," ucap Ian disertai tatapan menerawang. Ada pilu terselip di sana.
Beberapa kilometer menjelang tempat tinggal gue, Ian pun menumpahkan semuanya. Cerita menggugah yang mengalahkan skenario FTV terbaik sekalipun.
Menyibak sebuah sosok yang nggak gue sangka bersembunyi di balik segala kelakar cerdas dan tawa ceria itu. Behind the amusing laughter, lies a deep scar that is waiting to be healed with a real smile.
-sambunglagiesokhari-
~ (oleh @retro_neko)
#9 Pondok Mertua Indah
"Len.. sayang..sayang.. kita udah sampai Jombor.. Jogjaaa Len!!" kataku antusias sambil mengguncang pelan badan Nalen agar terbangun dari tidurnya.
"Hmm..Iyaa.." Nalen sedikit kaget saat tersadar dari tidurnya. "Barang-barangnya di chek lagi Nay. Jangan sampai ada yang ketinggalan di bus.", sambung Nalen dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Iya udah aku chek semua ko.. Eh sayang kita di jemput Bapak sama Ibu kan ya?", tanyaku sumringah.
"Enggak hehe.. Aku ga bilang kalau kita mau ke sini. Mau kasih surprise." jawab Nalen sambil nyengir tanpa dosa.
"Yaaa.. Trus kita naik apa donk??Udah belasan jam naik bus jangan bilang kalau kita mau nyambung bus lagi Len.." rengekku mulai manyun.
"Hihihihi.. aku gendong aja ya sampai rumah Bapak mau?", goda Nalen sambil membantuku turun dari bus.
"Aku ga mau naik bus lagi nge-time nya lama Len.." tolakku sebelum di ajak.
"Iya manjaaa.. Kita naik taksi.", ucap Nalen sambil mencubit hidungku saking gemasnya.
***
"Bu.. Ibu.. Assalamualaikum.." bisik Nalen yang menyembulkan kepalanya kea rah jendela dapur. Nalen yang super usil mengajakku masuk rumah dari pintu belakang, mengendap-ngendap seperti pencuri hihi.. Kemarin di jalan Nalen sempat bilang, 'Besok begitu sampai rumah orang yang pertama aku mau temui itu Sibu abis itu baru bapak.' (Sibu –panggilan untuk ibu dalam bahasa)
"Ya Allah Gusti.. Kamu iniii Jaleswaraa.." sambut suara ibu mertuaku. Wanita yang menurutku cantik untuk seusianya. Ibu langsung merentangkan tangannya untuk memeluk kami. Peluk kerinduan. Nalen memenuhi wajah ibu dengan ciumnya sedang ibu hanya bisa tertawa kegelian tak bias menghindar. Nalen akan bertingkah seperti apapun demi melihat ibu nya selalu bisa tertawa, bahagia.
"Ko ya ga bilang dulu tho' Le kalau mau pulang? Kan Sibu jadi bias nyiapin sarapan masakan kesukaan kamu." Ujar ibu gemas sementara anaknya Cuma cengar-cengir tersenyum puas merasa berhasil member surprise pada ibu nya.
"Bapak mana bu?hehe.." Tanya Nalen sambil berjingkat masuk.
"Tu di sana bapakmu di teras depan sama derkuku nya." Jawab ibu sambil menunjuk arah teras rumah. "Oalah Cah Ayuu.. Capek sayang?!" ujar ibu merangkul pundakku mengajak masuk ke ruang keluarga.
Aku mendengar suara tawa dua orang laki-laki yang semakin mendekat ke arah ruangan tempat aku dan ibu duduk. Nalen dengan Bapaknya, mereka terlihat akrab seperti biasanya.
Perbincangan kami pagi ini berhambur kemana-mana. Mulai dari pekerjaan kami masing-masing, rumah baru kami di Bogor, jerami sampai perihal makhluk bernama Bruno pun kami ceritakan. Biasa Nalen lebay ceritanya pakai nada sedikit jealous, katanya apa-apa Bruno haha dasar Nalen. Teh kental seduhan ibu memang yang paling enak yang pernah aku minum. Jadah tempe kesukaan Nalen jadi pelengkap hangatnya suasana pagi pertama liburanku di Jogja.
"Mbak mu lagi nginep di sini lho Len.. Biasa kalau mas Wisnu lagi di tugas di Semarang, mbak sama keponakanmu lebih seneng tinggal di sini. Kasihan kalau di rumahnya sepi ga ada yang di ajak gantian jagain Nada.", papar ibu.
"Lha sekarang Mbak Layung kemana Bu?" tanya Nalen ke balik pintu kamar kakak perempuannya, Layung Sari namanya.
"Ke warung bubur ayam depan situ, cari sarapan buat Nada." Jawab ibu.
"Bentar lagi kan dateng.. Lha itu suara cerewetnya si Nada udah kedengeran dari pager rumah." timpal Bapak.
"Lhooo tu Nad, Pak Lik mu Nalen dateng.." suara Mbak Layung menurunkan Nada dari gendongannya. (Pak Lik di ambil dari kata Bapak Cilik dalam bahasa Indonesia sering di sebut Paman atau Om.)
"Om Nayeeeeeenn.." suara Nada menyerang Nalen yang langsung lari menyusup ke dalam pelukan Nalen. Balita mungil yang mudah akrab dengan siapa saja ini terlihat senang melihat Pamannya datang.
"Kamu kok sudah besar tho Nduk? Masih suka ngompol pasti.." ledek Nalen sambil menggendong Nada tinggi-tinggi meletakkan Nada di pundaknya.
"Tumben ini ke Jogja ada acara apa Len?" tanya mbak Layung sambil menyuapkan bubur ayam ke bibir mungil Nada.
"Sowan Bapak Sibu lah mbak.. Sekalian mumpung aku belum sibuk proyek-proyek lagi ni besok rencana mau ada kerjaan di Indonesia bagian Timur tapi aku belum tau dimana tepatnya." Jelas Nalen.
"Oh gitu.. Di Jogja nya lama kan? Biar sempet ketemu mas Wisnu dulu. Mas Iparmu pengen banget tu main ke rumah barumu di Bogor. Kerain aku sempet cerita kalau kamu bangun rumah di sana." Kata mbak layung sambil menyalami aku yang duduk di dekat Ibu.
"Ayoo mbak main ke Bogor nanti tak ajak Nada main ke Taman Safari." Ajakku antusias.
"Wah pasti seneng banget si Nada itu.. Wah tapi kapan ya nanti kali ya nunggu bapaknya Nada udah ga repot lagi.", jawab Mbak Layung sambil melambai pada Nada agar segera turun dari gendongan pamannya. "Udah belum Nay?" sambung Mbak Layung sambil meletakkan tangannya di perutku.
Sontak aku melirik Nalen dan Ibu. Pertanyaan yang pasti akan ditanyakan 'Kamu kapan hamil?'
"Belum mbak.. Mau nya ya cepet mbak.." jawabku lirih.
Nalen menghampiriku jongkok di hadapanku menyentuh lembut kedua lututku sambil berkata ke Ibu, "Kita sudah periksa ke Dokter bu hasilnya normal. Aku bagus, Naya juga bagus. Kita memang belum di kasih aja." Lalu Nalen beralih menatapku sambil tersenyum. Senyum yang menguatkan aku selama dua tahun pernikahan kami.
"Iya ga apa-apa kalian kan sudah berusaha sama berdoa. Buat ibu sama bapak yang penting kalian sehat, rumah tangga rukun." Nasehat ibu.
"Iya.. mbak doain ya biar Nada cepet punya temen main. Itu nanti mbak adsa vitamin-vitamin tu bias kamu minum Nay.." kata mbak Layung lembut.
"Ya sudah sana pada mandi-mandi istirahat dulu di kamar ibu biar nyiapin sarapan." Kata Bapak memecahkan kesedihanku. Nalen membantuku membawa masuk barang-barang bawaanku ke dalam kamar.
"Len.." panggilku resah.
"Iyaaa.." jawabnya lalu memelukku dari belakang. "Kenapa kamu capek?" tanya Nalen.
"Iya capek di tanyain kapan hamil kapan hamil.. maaf ya Len harusnya akuu.."
"Mulai deh.. ga suka ah.." potong Nalen merebahkan badannya di kasur. "Yang penting buat aku ada kamu Nay di sampingku. Ada nya anak itu bonus buat aku. Santai aja kamu jangan dibawa stress nanti malah sakit." entah kalimat Nalen ini sudah berapa kali terlontar tapi masih saja aku resah untuk alas an yang sama. "Daripada sedih-sedih mending seneng-seneng. Yuuk mau buat anak??" goda Nalen melihat istrinya manyun.
"Aku mau mandi.." buru-buru aku meraih handuk dan sikat gigiku. Terdengar Nalen tertawa lepas dari kamar.
"Nanti malem ya Nay.." teriak Nalen membuatku malu ternyata ibu mendengarnya sambil menahan tawa.
Aku mandi ya teman-teman. Nanti ku lanjutkan lagi tulisanku.
Kalian jangan mengintip yaa hihihi..
From Yogya with love tertanda : Naya
~ (oleh @ukakuiki)
Surat Dari Indra
Dear Tiffany
Sebelumnyague mau ngucapin Happy Valentine, senang bisa liat lo senyum setiap pagi.Lo udah tau gue kan ? Indra, dari kelas XII IPS.
Di hari-hari terakhir gue di indo gue mau minta tolong sesuatu ke lo. Temuin gue tanggal 16 february di danau dekat sekolah. Gue minta tolong, tolong banget, bentar lagi gue mau pindah ke singapur jadi lo bisa ya dateng. Gue gak mau macem-macem sama lo, kalo gak yakin silahkan bawa temen lo, tapi jangan gerombolan ya.
Gue minta tolong,banget.
Indra
*nb : ingat foto kita berdua di pantai waktu itu ?
"Damn!!! Indra !, moan lo kok gaktau sih di meja gue ada ginian dari hari gue pingsan ?"
"yee emang berani bayar berapa lo gue mau bersihin laci bau gitu ?"
"yakan paling kagak ngintip lah ada apa aja dalem sini"
"Demi apa Fan ?"
"Demi, si Irfan yang lagi les balet " sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek Moan.
"eh sialan lo, gitu-gitu setia men"
"eh udah deh ini gimana? Dia pake ngancem mau macem-macemin foto gue sama dia yang pas gue lagi pake bikini doang lagi"
"eh serius lo pake bikini full ?"
"bawahnya gue pake jeans lah, lo mau gue diperkosa ditempat ? lagian itu juga waktu gue ketemu dia di pantai waktu gue lagi liburan ama ortu gue"
"siapa suruh, salah lo sendiri mau foto ama dia, pake bikini lagi"
"yang ngambil foto bokapnya dia an!!! Gue mah terpaksa senyum"
"yaudah datengin aja dianya, gue ikut deh"
"yaudah, lo jagain gue ya, lo kan udah sabuk hitam, kalo dia macem-macem, tendang aja perutnya, jangan ragu-ragu"
"jangankan perutnya, burungnya aja gue bakal tendang kalo ada yang macem-macemin elu"
"okedeh, sip"
Meski wajahnya tersenyum, Fany masih resah dengan apa yang akan Indra lakukan padanya. Fany merasa ia dikelilingi banyak pria bajingan yang akhirnya dengan munafiknya menyatakan cinta mereka pada Fany. Tentang Sam yang kemudian jadi semakin gombal dengannya, dan Indra yang punya kartu as yang sudah menjadikan Fany seperti orang yang serba salah dan tak berdaya.
Bagi Fany, mereka sama saja. Cinta yang membuahkan pikiran licik para pria tersebut. Sebenarnya Fany sendiri sudah muak dengan tingkah laki-laki yang seperti ini. Namun, apa daya? Spesies yang seperti mereka sekarang banyak jenisnya. Fany hanya bisa menolak apapun cara mereka berusaha melabuhkan hati pada Fany.
-*-*-
Bel pertanda pulang akhirnya berbunyi, seisi kelas berhamburan pergi keluar. Guru di jam pelajaran ini sepertinya hanya pasrah melihat tuntutan tugas yang akhirnya dijadikan tugas rumah. Fany akhirnya semakin Resah, apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana jika Moan tidak akan berdaya melawan tubuh indra yang besar tersebut. Surat ini sudah lama Fany tinggalkan dan tidak banyak waktu Fany untuk berfikir, jika saja surat ini sudah dibacanya, mungkin Fany sudah berusaha mati-matian ngomelin Indra di depan umum, dan tentunya dengan bonus tamparan.
"Gimana sist ? udah siap ?"
"gue takut An"
"gapapa ada gue kok, lo mau cowok badannya sebesar gentong apa aja gue lawan"
"jagain gue ya an, gue takut, kalo bukan gara-gara foto itu juga gue gak bakal mau kok"
"gapapa sist, habis tu cowok kalo ngapa-ngapain lo"
Sesampainya di danau tersebut, terlihat indra dengan santai duduk sendiri. Siapa lagi kalau bukan Fany yang ia tunggu ?. Kulit Indra yang kecoklatan dan tubuh yang besar lumayan kekar, yang dengan gaya bahasanya yang "Made in Medan" cukup kental itu bersandar pada sebuah pohon, yang tumben sepi jam segini. Sementara Moan mengawasi dari Jauh, Fany datang sendiri ke hadapan indra dengan Nyali yang cukup besar.
"Ndra, ngapain lo manggil gue kesini ?"
"Eh Fany, gue kira gak dateng"
"udah deh to the point aja"
"sabar lahh, santai aja, gue disini gak mau macem-macem kok"
"terus?"
"jadi, sebelum gue ninggalin indo , gue mau bilang sesuatu"
"bilang apa ?"
"sebenarnya sudah lama gue mau bilang ini, terserah lo mau ngartiinnya gimana" sambil mengangkat kedua tangan Fany secara perlahan, Indra berkata kecil
Melihat tangan Fany sudah di sentuh, Moan dengan sigapnya menyediakan sebatang balok dan menyiapkan beberapa jurus yang akan ia pakai untuk membanting Indra. Namun dari belakang Moan seseorang menyentuh pundak Moan.
To Be Continued…
Special thx buat Arta, Yayat, dll yg udah buat gue ngakak tiap hari sampe six pack hehe. GBU all guyz J
~ (oleh @iimamf)
Annica #9
#9 I never thought that we're gonna be like this, even today, I still can't believe it. Thank you for coming to my life, thank you for not giving up with my acts to you, and of course thank you for giving me a chance to feel it again. Aku dan kamu, kita berjalan bersama, iya kan - Annica - Nadira: aku lg pergi mkn sm Anya. What's wrong? Edrick: cm mau nanya kbr km aja Nadira: well I'm fine, thanks Edrick: cm sm Anya? Nadira: Edrick, please… Edrick: what? Nadira: please stop asking aku pergi sm siapa dan kmna Edrick: just can't stop thinking of you…. Aku menatap layar blackberryku dan membaca bbm yang aku kirim ke Nadira sejak sepuluh menit yang lalu. Tandanya sudah berubah menjadi "Read" tapi Nadira sama sekali tidak membalasnya hingga detik ini. Iya, aku masih memikirkan Nadira. Aku masih terlalu sering membiarkan dia masuk ke dalam otakku dan aku pun masih merindukannya setiap waktu. Aku tahu, aku dan Nadira belum ada dua bulan berpisah. Dan ini bukan perpisahan pertama kami, sudah untuk kesekian kalinya kami bertengkar dan berakhir dengan kata-kata putus dari Nadira, tapi kami selalu kembali lagi bersama entah dengan permintaanku ataupun permintaan Nadira. Tapi aku sekarang ada Annica. Annica itu baik dan ramah. Dia cantik dan pintar. Dan yang jelas Annica ada bersamaku dalam satu kota, betapa mudahnya jika aku ingin bertemu dan melihatnya. Sedangkan Nadira ribuan kilometer jauhnya dariku. Aku masih menyayangi Nadira tapi di satu sisi aku pun mulai merasa takut kehilangan Annica. Apa aku terlalu serakah? "Edrick?" Sherry setengah menjerit ketika mengucapkan nama itu, aku sampai harus menepuk tangannya keras untuk menyadarkan dia kalau sekarang kami sedang diperhatikan oleh beberapa orang yang duduk tidak jauh dari meja kami. "Sher, suara lu Sher…." Kataku mengingatkan "Sorry sorry, tapi gue shock beneran, kok bisa sih? Kenal darimana?" tanya Sherry antusias "Dikenalin sama temen gue, kebetulan kantor dia deketan sama restoran tunangannya temen gue" "Terus gimana sekarang, masih contact?" "Iya masih, masih bbm dan telponan gitu. Lu kenal dia deket?" "Ngga sih, ngga deket banget. Ya dulu satu SMU dan memang sih lingkaran temen – temen gue sama dia ngga beda. Tapi ngga deket banget cuma begitu-begitu aja" "Dia anaknya gimana?" tanyaku ingin tahu yang kemudian membuat Sherry tampak mengingat-ingat tentang sesuatu "Anaknya baik sih tapi tengil, nakal lagi" jawab Sherry kemudian "Nakal gimana?" "Ya bukan nakal-nakal yang gimana sih, nakalnya cowok. Tapi suka berantem juga setau gue sih. Eh, bukannya dia itu punya pacar ya, temen SMU gue juga, namanya Nadira" "Dia sama Nadira lama ya pacarannya?" "Hmm…kalo sama Nadira gue ngga terlalu tau. Gue taunya dia pacaran sama Nadira itu selepas SMU ya, itu juga gara-gara facebook gue taunya, kan Nadira kuliah di China abis lulus. Mereka uda putus ya?" "Iya, kata temen gue yang ngenalin dan berdasarkan pengakuan Edrick sih udah putus ya" "Ohh…so, do you like him?" tanya Sherry dengan tatapan mau taunya itu "Gue ngga tahu Sher, masih bingung" "Bingung kenapa?" "Dia baik, dia sopan, dia perhatian banget. Dan gue juga ngerasa nyaman sama dia. Tapi gue juga masih ragu soal dia sama mantannya itu" "Setau gue dulu pas jaman SMU dia memang nakal dan ngga tau ya kalo soal playboy atau ngga, tapi lu tau sendiri kan sama Revan and the gank? Ya itulah temen-temennya dia." "So, what do you think?" "Kalau memang ada yang lebih baik mending ngga usah sih Ann tapi kalau memang lu mau nyoba sama dia ya jalanin aja. Mungkin bener dia uda berubah, gimana pun juga kan gue udah lama banget ngga pernah ketemu dia. Ya siapa yang tahu kalau dia memang udah beneran tobat" ~ (oleh @luilliciousmey) |
Subscribe to:
Posts (Atom)