Tentang 30 Hari Cerita Cinta

23 September 2011

#11 Moment yang kesebelas


"kehilangan yang terberat adalah kehilangan seseorang yang tidak pernah kita miliki...."
   
    Aku rasa aku sudah tidak waras lagi saat mengiyakan permintaan Bram.
Tapi aku terlalu lelah berpikir, terlalu lelah untuk berargument dan kubiarkan saja mulutku menucapkan kalimat
"Iya, Aku Mau Bram!!..
Kilas balik petengkarang dengan Bram malam itu.
"Kamu pilih aku atau dia Bram?"
"Hei sayang, jangan main main dengan permintaan kamu. Be wise what you wish for!!"
"Aku gak main main Bram dan tolong stop memanggilku dengan sebutan tolol itu, SAYANG!!"
"Jangan judes gitu Ruth, ini untuk kita"
"KITA??? Pernah ada kita? atau hanya kamu dan egomu dan nafsumu mencumbui dua wanita"
"Ruth, stop sayang.. please. Hatimu terlalu lembut untuk berucap semua itu. aku mohon dengarkan hatimu Ruth"
"Dan aku mohon dengarkan pertanyaanku Bram. Memilih dan Kepastian!"
"............ kamu masih ingat dengan percakapan kita dulu, tentang jodoh dan soulmate.
Ruth for some reason I do believe you are my soulmate my true love dear, stay with me please...!!"
Mata Bram berkaca kaca mengucapkan kalimat tersebut dan ada kesungguhan disana.
" How's your fiancee?"
"Dia jodohku Ruth"
"... Ok Bram, sekarang aku tahu siapa pilihan kamu. TINGGALKAN AKU SEKARANG."
"Ruth, tidak ada yang perlu dipilih sayang,
sudah takdir kita bertiga dalam hubungan ini dan aku tidak akan melewatkan walau hanya sekelebet mata"
"Kamu egois. Lelaki Egois."
"Egois karena cinta dan cinta itu kamu, Ruth Nadya.."
Kubiarkan saja kamu menarikku kedalam pelukanmu, pelan pelan kamu menyenderkan kepalaku dipundakmu.
Pundak yang biasa kusinggahi kalau aku lelah dan masih bau tubuh yang sama saat aku memelukmu.
"Ruth, jangan pergi sayang."
"Terus kamu maunya kita bagaimana?"
"Kamu mau jadi pacarku?"
Setelah sekian lama, baru kali ini Bram memintaku jadi pacarnya secara resmi.
Aneh dengan status dia yang sudah bertunangan.
"Pacar, Pacaran dengan orang yang sudah bertunangan?"
"Cerita cinta banyak versinya Ruth.."
"Bram, aku takut sendiri, aku takut kesepian"
"Iya ada aku sayang, kamu tidak akan sendirian...."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
   
    Masih ada sisa sisa kemarahan untuk Bram,tapi kucoba untuk tidak pakai logika karena aku memang sudah gila. Mengiyakan jadi selingkuhan seseorang yang akan menikah 3 bulan lagi. Apa itu namanya kalau bukan gila.? Whatever, saatnya berdiri untuk sesuatu yang dipercayai walau harus sendiri. Bram akan kembali pada Natalia dan Riri tentu tidak akan membelaku. Pada akhirnya aku akan sendiri. Bukankah seseorang memang padaakan sendirian? Kematian? Aku tidak ingin menjemput kesendirianku terlalu cepat, biar kunikmati dulu perasaan yang mematikan ini.
Riri seperti ingin menelanku bulat bulat. Sudah bisa kuprediksi reaksinya mendengar pengakuanku.
"Bajingan juga laki lu itu ya, mainnya kok main belakang. Gak cukup bini satu ya?"
"Ri dia punya nama..."
"Terserah Ruth! Sekarang gue tanya sama lu, apa yang bikin lu merendahkan diri gini mau jadi selingkuhan? Hah?"
"Gue sayang Bram dan gue gak mau sendiri.."
"Hei Nona Ruth Nadya, ada Bernard. Bernard yang jelas jelas masih sayang banged sama Lu.."
"Bernard masa lalu Ri.."
"Selain bodoh lu juga gengsian ya. Gengsi karena udah mutusin Bernard secara sepihak dan sekarang Lu ngemis ngemis biar bisa tetep sama Bram walau hanya SELINGKUHAN"
Riri terkenal dengan tikaman kata katanya, dan sialnya apa yang dia katakan hampir semuanya benar.
Aku terpojok benar benar terpojok dan tidak ada ruang untuk aku mebela diri.
"Ruth, gue gak ngajarin lu soal moral dan agama. Engga.
Gue cuman ngingatin lu soal karma. Siapa tadi nama saingan lu itu, Natalia?? Oh, dia perempuan sama kayak kita. Kalau lu jadi dia gimana?"
"Ri, cukup sudah terlalu sering gue mikirin perasaan orang lain. Lagian Bram kurang bahagia sama tunangan dia tuh"
"bahagia dia bukan tanggung jawab lu!!
Jadi lu berharap 3 bulan ini ada keajaiban mereka bubar dan jadi sama lu, GITU?
jangan ngimpi... Gue kasih tahu ama lu, kalaupun Bram bubaran ama cewenya gak akan dia memilih elu,
GAK AKAN!! Itu akan dia lakukan untuk membela egonya. Percaya ama gue"
"Ri, cukup. Sekarang ini kita berbicara tentang masalah gue, biar gue yang selesaikan"
"Maksud Lu"
"Thank You for asking and caring Ri, I can handle this.."
"Lu bahagia dengan pilihan lu Ri?"
"Iya gue bahagia Ri, as long as Bram with me.."
"So you don't need me anymore Ruth.."
"Ri...."
"Oke FINE, semoga lu bener bener bahagia.."
"Ri...............!!!!"
    Aku tahu Riri, dia tidak akan menarik ucapan yang sudah melewati mulutnya.
Benarkan, memilih Bram berarti aku harus sendiri.
Kembali airmataku datang.

BBM dari Bram
"Sayang lagi apa? udah makan?
"Udah, kamu?"
"Lagi nih, kok gak semangat gitu.."
"Aku berantem sama Riri bout us"
"Kamu nyesel?"
"No Bram, sedih aja.."
"Dear, I'm sorry.. abis makan aku ketempat kamu ya.."
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
    Keadaan yang paling membingungkan itu saat benar benar ingin tapi juga benar benar takut.
Ingin meninggalkan Bram tapi takut kesepian. Kembali pada Bernard? Bukan pilihan.
"Nad lagi apa? Kamu kok gak sama Riri, aku lagi makan nih sama dia di Nagoya sini dong.."
SMS dari Bernard dan aku memilih untuk tidak membalasnya..
    Beberapa hari ini terlalu melelahkan. Selain memabukkan, membuat gila cinta itu juga melelahkan.
Bram, tidak kamu ingin merevisi cinta kita ini? Atau kamu memohon pada Tuhan gitu untuk waktu yang lebih lama.
Atau kenapa bukan aku dulu yang kamu kenal pas kamu kecil,kenapa harus Natalia dan juga kenapa kalian harus dijodohkan?
Atau tidak punya kuasa kah kamu untuk menolak perjodohan itu?
    Tuhan bisakah kupinjam sebentar buku kehidupanmu?
Untuk kulihat nama siapa yang akan tertulis mendampingi Bram? walaupun aku yakin bukan namaku disana.
Tapi selalu ada harapan kan Tuhan?
Atau memang cinta itu seperti ini, Cinta yang dariMu?
Kenapa KAU mengizinkan kami bertemu, mencintai tapi tidak saling memiliki?
    Aku tertidur dengan pertanyaan kenapa kenapa dan kenapa.
Dimimpiku kulihat Bernard yang memandangku dari jauh.
Dia merentangkan tangannya  seakan memberi tanda padaku untuk mendekat dan mendekapnya.
Selangkah aku maju tapi Bram mencegatku.. "Ruth kamu milikku...."
Di dunia mimpi pun aku selalu mengiyakan kamu Bram..
Aku kamu si pelaku cinta dan aku benar benar menikmatinya Bram...
To be continued


~ (oleh @fredricanatasi)

Annica #11

#11

They say that loving someone makes you blind, really?

- Annica -

Hari-hari yang aku lewati bersama Edrick selalu penuh dengan kenyamanan dan kesantaian. Dia selalu berhasil membuat aku tertawa. Dia selalu memeluk aku ketika aku mulai stress dengan pekerjaan. Dan dia juga selalu memberi aku banyak perhatian.
Everything seems right dan berjalan dengan sangat baik.
"Hon, kalau kamu ajak aku makan malam terus lama-lama aku gendut beneran deh" kataku didalam mobil Edrick dan Edrick hanya menatapku dan kemudian tertawa
"Edrickkk…"
"Iya sayang, maaf. Ngga kok, ngga akan jadi gemuk, yang ada kamu tambah seksi"
"Yaa…kalo jadi gendut ya kamu yang disalahin, kamu ngajakin aku makan terus sih"
Edrick hanya tertawa dan mengecup bibirku pelan. Dan aku hanya tersenyum.
"I love you" bisiknya pelan.
Edrick kembali menatap ke depan sambil menyetir.
Sekarang aku ada di jalan bersamanya, mau ke salah satu tempat makan seafood di pinggiran pantai.
Tempat makannya enak dan suasananya juga sangat romantis dan private.
Setiap ruangan bentuknya hampir mirip dengan bilik-bilik bambu yang membelakangi pantai. Ruangan-ruangan itu sekelilingnya tertutup dengan kayu yang kemudian dilapisi bahan anyaman bambu, hanya bagian atasnya yang terbuka. Pintunya berupa pintu dorong seperti rumah-rumah Jepang dan di belakangnya ada jendela besar yang bisa ditarik keatas jika ingin menikmati pemandangan laut di belakangnya. Dan tempat makannya berupa lesehan.
"Kamu suka makanan apa hon?" tanya Edrick sambil melihat daftar menu di genggamannya, aku hanya melihatnya dari balik bahu Edrick. Kami sudah sampai di tempat makan.
"Aku suka cumi gorengnya hon, enak"
"Iya aku juga"
"Kamu sih memang suka sama cumi goreng hon" celetukku sambil memainkan blakcberryku
"Lho kok tau?" tanya Edrick kaget
"Ya kalo kemana-mana kan kamu pesennya itu melulu" jawabku
"Kamu perhatian ya sayang padahal aku ngga pernah bilang lho" Edrick mengusap kepalaku. Dia duduk menyender di dinding belakangnya dengan tangan yang tetap di punggungku.
Kami sedang menunggu seorang waitress yang berjalan ke arah kami untuk mengambil pesanan kami setelah tadi dipanggil melalui bel yang ada didekat meja.
Setelah waitress itu pergi, Edrick memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Tanganku masih memegang telponku sambil membalas bbm dari Randy.
"Siapa sih hon, sibuk banget bbm daritadi?" protes Edrick
"Dari Randy sayang, dia nanyain kabar mama. Daritadi siang dia bbm aku lupa bales. Sibuk banget di kantor" jawabku sambil mengetik
"Udahan dong, nanti lagi balesnya, kan sekarang kamu lagi sibuk sama aku" aku tertawa kecil mendengar ucapan Edrick, suaranya yang setengah manja dan sikapnya yang memelukku hampir mirip seperti anak kecil yang sedang memelas meminta permen dari ibunya.
Aku menaruh blackberryku dan memutar kepalaku menghadap wajah Edrick. Kami hanya saling menatap sesaat tanpa ada satu suarapun yang keluar sebelum bibir kami saling bertemu.
Ciuman itu terasa dalam dan semakin lama semakin dalam. Kini posisi kami sudah berubah, Edrick sudah memutar badannya dan sekarang ada didepanku, sedangkan aku kini sudah duduk menyender di dinding bambu. Edrick memeluk aku erat. Dan aku semakin terbuai.
"Sayang, udah" kataku sambil susah payah melepaskan ciuman Edrick
"Hmm.." Edrick masih berusaha menciumku dan aku berusaha sekuat tenaga tidak menyambutnya. Napasku terengah.
"Hon, nanti ada yang liat" kataku setelah benar-benar sadar dari moment sebelumnya.
Edrick menatapku dan mengecup bibirku sekali, setelah itu dia menarikku ke dalam pelukannya, menempatkan kepalaku di dadanya. Kami sama-sama duduk menyender di dinding kayu itu.
Edrick berusaha mengatur napasnya kembali normal dan aku mendengar degup jantungnya yang berdetak keras tapi semakin lama semakin menurun dan kembali normal. Edrick menarik jendela yang letaknya ada di sampingku keatas dan angin malam pun masuk menerpa wajahku.
Kami menghabiskan makan malam kami dengan lebih banyak diam, sesekali Edrick bercerita tentang pekerjaannya tadi siang dan aku menimpalinya.
Edrick juga bercerita tentang hubungannya dengan Papanya yang tidak berjalan baik sejak dia masuk remaja dan baru kembali baik dua tahun belakangan ini. Papa Edrick ada sakit ginjal sehingga tidak bisa terlalu lelah dan makan sembarangan.
Edrick dan Papanya kembali berhubungan baik sejak terakhir kali Papanya masuk rumah sakit sekitar hampir tiga tahun yang lalu. Dan sejak itu Edrick memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat sebelumnya dan membantu Papanya secara total.
"Wahhh…kenyang hon" kata Edrick sambil mengelus perutnya sepanjang jalan kami ke arah parkiran.
"Jangan jadi buncit ya sayang" kataku sambil ikutan mengusap perutnya. Edrick melirikku dan menarikku semakin dekat ke pelukannya
"Aku kan belum jadi Om-Om sayang, tapi kalo buncit juga kamu masih tetep sayang sama aku"
"Ihh..kamu ge-er dehh"
"Biarin"
Aku dan Edrick berjalan ke arah mobil yang diparkir agak jauh dari tempat kami makan.
Dan saat masuk ke dalam mobil, kami disuguhkan dengan pemandangan lautan dengan lampu-lampu diseberang yang berkelip-kelip membuatnya terlihat sangat bagus didepan kami.
"Bagus ya hon?" kataku sambil memandang ke depan. Edrick menatap ke depan dan tidak jadi menyalakan mobil. Kami sama-sama terdiam dan menikmati pemandangan yang ada didepan kami sekarang.
Edrick menarik pinggangku dan membuat aku benar-benar menempel badannya. Tangan kirinya terus ada di pinggangku dan tangan kanannya kini memelukku dan mengusap lenganku perlahan. Aku menaruh kepalaku di bahunya, Edrick mengecup pelan keningku.
Edrick sedikit beringsut dan mengangkat daguku, bibir kamipun kembali bersatu.
Dimulai dari kecupan pelan dan lembut dari Edrick tapi semakin lama kami semakin hanyut dalam suasana ini, ciuman itu semakin dalam dan tangan Edrick terus mengusap punggungku.
Salah satu tangannya kini mulai membuka sedikit kaosku dan membelai kulit punggungku, tangannya terasa dingin.
Hari ini aku memakai celana pendek dan atasan polo shirt biasa karena aku melihat Edrick juga berpakaian santai dengan hanya mengenakan polo shirt dan celana pendek selututnya.
Tangan Edrick terus semakin naik dan berhenti di kaitan braku, dia masih terus mengusap kulit punggungku dengan perlahan. Ciuman kami pun semakin panas. Dan kami terhanyut dalam suasana.


~ (oleh @luilliciousmey)

Salah Paham

"Fer, kamu jangan ngehancurin hubungan Dino ama Rea gitu dong!" Tuduh Lila mendamprat Ferry di cafetaria kampus. Ferry yang sudah menyendok nasinya urung menyuapkan malah menatap Lila yang berdiri di depannya.
"Sapa juga yang mau ngehancurin hubungan sahabat sendiri gitu loh!!! Gue cuma bilang aja kalo gue lihat Dino malam minggu kemarin dugem ama cewek lain. What it's wrong?"
"Ya iya lah. Kamu kok jadi ember banget gini sih. Bisa aja khan tuh cewek sepupunya ato malah kamu yang salah liat orang?"
"Brak!!! Eh..., denger yah gue tuh udah berteman lama ama Dino, so gak bakalan salah ngenalin mobil sedan biru langit milik Dino, TAU!!! Gue juga kenal banget siapa aja sepupu Dino!!!!" sahut Ferry marah sambil menggebrak meja di depannya, otomatis para pengunjung cafetaria memperhatikan mereka berdua. Apalagi volume suara mereka dari tadi sudah tidak bisa dibilang pelan.
"Jadi kamu cuma liat mobil Dino doang, tanpa Dino gitu?" Lila kaget mendengar jawaban Ferry.
"Lil, gue juga lihat Dino turun dari mobil itu," nada suara Ferry tetap tinggi.
"Kamu lihat langsung dari dekat ato cuma dari belakang?" Lila menangkap keraguan Ferry, masalah ia melihat dari dekat atau dari belakang saja.
"Aku gak nyangka kamu sebego ini, menyampaikan berita yang belum tentu benar. Kamu, sahabat atau musuh dalam selimut sih?" Sinis nada suara Lila sebelum pergi meninggalkan Ferry yang terpekur diserang rasa salah. Seiring berlalunya Lila, para pengunjung cafetaria kampus pun tak lagi memperhatikan Ferry.




~  (oleh @non_maya)

#11: A Day Late (pt. 1)

Farewell party's coming!
Dua hari menjelang pesta di rumah Tuan Ryjeka. Para mahasiswa jurusan HI terpaksa harus menahan euforia mereka, karena laporan terakhir kami ternyata harus diuji dulu sampai dinyatakan 'lulus'. Aku, Lisa, dan Hye-jin sendiri belum mendapatkan hasilnya dari Tuan Ryjeka. Beliau boleh saja sangat menyenangkan, tapi bisa ganas untuk urusan akademik!
"Kelas kita baru diumumin setelah makan siang," ujar Lisa – matanya melirik jam dinding di kafetaria. "Argh!!! Baru pukul 11! Kita harus nunggu... DUA JAM LAGI!"
"Dan kalau nungguin hal yang kayak gini, waktu bisa berubah jadi siput!" gerutu Hye-jin dengan mata sayu. Dia kurang tidur semalam karena harus mengejar deadline laporan pagi ini. "Tidur juga nggak akan bisa."
Aku lebih memilih diam sambil menyeruput iced coffee latte.
Sebenarnya, aku tidak sedang memikirkan laporan terakhir, karena pikiranku berlari ke masalah lain yang terjadi kemarin malam. Ya, kalian pasti bisa menebaknya: Ares.
---
Laporanku dan Lisa sudah selesai ditulis, tapi kami tidak bisa meninggalkan Hye-jin yang mendapat kesulitan begitu saja. Jadi, kemarin malam, aku pergi ke Wal-Mart sendirian sekitar pukul enam sore untuk membeli cemilan untuk kami, sementara Lisa terus menemani Hye-jin di asrama.
Aku memutuskan untuk membeli beberapa bungkus pop-tart dan bagel. Saat akan membayarnya ke kasir, mataku menangkap seseorang sedang menyeduh secangkir kopi di coffee maker, memunggungiku. At first, I didn't notice the shirt, but at the second glance... I almost dropped my stuff. Ares!
IYA, ITU ARES! Sekarang, aku jadi bingung antara menyapanya atau cepat-cepat pergi dari sini.

"Nona, belanjaannya mau dibayar atau tidak?" tegur sang kasir.
Aku cepat-cepat berlari ke arah kasir untuk membayar belanjaanku. Sambil sesekali, melirik ke arah Ares dengan gelisah dan, uh, kenapa aku harus beli cemilan sebanyak ini?
Tarik nafas, buang, tarik nafas, buang...
Akhirnya, kasir menyerahkan belanjaan dan aku langsung berlari keluar tanpa memedulikan kembaliannya. Ares masih diam di samping *coffee maker*, jadi aku cukup tenang begitu berhasil melarikan diri.
Sayangnya, baru keluar lima langkah, dia meneleponku!
"Berhenti di sana!" pintanya seperti seorang polisi yang berhasil memergoki perampok. Dalam waktu yang bersamaan, kami menutup telepon dan tidak lama kemudian, Ares berdiri di depanku.
"Kembaliannya dua dolar dan kamu nggak mau ambil?" Dia berdecak tidak percaya dan mengacungkan dua lembar uang satu dolar. "Dita—"
"Sini!" Tanganku dengan cepat menyambarnya. Ares tersenyum kecil – rambutnya sudah memanjang sampai di bawah leher dan ada brewok tipis di sekitar rahangnya yang tegas. Aku bisa saja menduga dia adalah salah satu personil band yang sering wara-wiri di Warped Tour.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanyaku penasaran. "Bukan lagi *stalking* aku, kan?"
Dia tergelak, lalu kepalanya menggeleng. "Aku nganterin dosen ke sebuah pertemuan di sekitar sini. Satu jam lagi juga kita pulang ke Boston."
Uh, aku jadi malu sendiri karena menuduhnya seperti itu. "Oh, oke."
Hening sejenak. Selanjutnya, Ares mendekat perlahan dan jemarinya menangkup daguku; mengangkatnya ke atas agar mata kami bertemu. Tiba-tiba, udara di sekitarku habis; aku jadi sulit bernafas begitu melihat matanya. Bahkan, tanpa sengaja, aku menjatuhkan belanjaan.
Sebuah pikiran melintas – mungkin Ares sebenarnya ingin agar hubungan kami kembali. Aku tidak keberatan menerimanya, meski nanti kami akan terpisah jarak yang sangat jauh. Bagaimanapun juga, masih ada sebagian dari diriku yang menginginkannya.
"Glad to see you're way better here," bisiknya. Aku menunggu dia melanjutkannya, tapi, ternyata Ares melepaskan tangannya. Beberapa detik kemudian, sebuah bus berhenti di halte di seberang Wal-Mart.
"Kamu harus ke asrama lagi, kan?" Ares mengambil belanjaanku yang terjatuh dan memberinya padaku. "Ayo, nanti keburu busnya pergi!"
Aku mengangguk kikuk. Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?
"Ares?"
"Ya?"
Bilang ini gila, tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi! Tanganku menarik kemejanya mendekat dan mencondongkan kepala untuk mencium bibirnya sekilas. Aku bisa merasakan tangan Ares yang siap menarik pinggangku untuk mendekat. Tapi, karena dikejar waktu, aku langsung melepasnya dan berlari ke halte untuk naik bus setelah meliriknya sekilas di belakang.
Ares tertegun di tempat seperti raga tanpa jiwa.
---
"Dita, kamu bisa nyedot coffee cup-nya juga, lho!"
Teguran Lisa membuyarkan lamunanku – ternyata dari tadi aku terus menyedotnya meski iced coffee latte-nya sudah habis. Lalu, aku gelisah karena Lisa dan Hye-jin sama-sama memicingkan tatapan curiga padaku.
"Maaf." Aku menarik nafas panjang, kemudian beranjak dari kursi. "Aku mau sendirian dulu. Kasih tahu kalau mau masuk kelas, ya?"
Hye-jin mengerucutkan bibirnya. "Mau ketemu Adrian, ya?"
Meski tebakannya benar, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
***




~ (oleh @artemistics)

22 September 2011

Bayang Samuderana

“Baik” ucap Ricardo menyambut tangan Bayang.

Ada yang aneh kurasakan saat ini, entah kenapa aku takut, takut melihat raut wajah Ricardo yang tidak seperti biasanya.

“Sudah pulang, Nak? Loh, ini adalah?” ucap Ibuku yang baru saja keluar dari arah kamarnya.

“Ini Bayang, bu. Teman Sinar” ucapku memperkenalkan Bayang ke Ibu.

“Selamat sore, Tante...?” Bayang mengulurkan tangannya.

“Tante Ida” ucap Ibuku menyambut tangan Bayang.

“..Saya Bayang, tante Ida. Teman Sinar. Maaf, baru bisa mampir hari ini, sebelumnya hanya sering mengantar sampai depan pintu saja” lanjut Bayang.

“Silahkan duduk, nak Bayang” Ibuku mengajak Bayang untuk duduk, aku tersenyum melihat Ibuku begitu ramah dengan Bayang.

Namun tidak saat aku melihat Ricardo, dia malah masuk ke ruang makan tanpa berpamitan. Menyebalkan.

“Terima kasih, Tante. Saya pamit dulu, masih ada yang harus dikerjakan. Lain kali saya pasti mampir lagi” Bayang menolak ajakan Ibuku, aku sedkit kecewa.

“Loh, kok buru-buru amat, minum dulu aja” ucap Ibuku lagi.

“Iya, duduk aja dulu, minum. Kenapa? Karena rumah gue kecil?” ucapku dengan nada ketus.

Bayang langsung menatapku dari tempat dia berdiri, tersenyum kepadaku lalu berjalan mendekati sofa hitam tua yang berada di ruang tamu kami, dia duduk.

“Baik jika itu mau tante Ida” dia tersenyum ke arah Ibuku, dan ibuku memberikan tatapan ‘isyarat’-ayo-Sinar-siapkan-minum-untuk-temanmu-ini. Akupun pergi ke dapur membuatkan minum untuk Bayang. Ricardo menghampiriku.

“Ini Bayang siapa lagi?” nada bicaranya kurang ramah.

“Temen, kan udah gue kenalin sebelumnya” jawabku.

“Cuma temen?” lanjutnya lagi.

“Iya” jawabku singkat sambil mengaduk sirup markisa yang baru saja kutuangkan ke dalam gelas bersama es batu dan air dingin.

“Cuma temen cowok pertama yang lo kenalin ke nyokap lo? Yayayaya..” diapun meninggalkan dapur dan terdengar sepertinya dia berpamitan dengan Ibu untuk pulang.

“Hhhhh..dasar aneh” ucapku mengomentari tingkah Ricardo sore itu.

Kami berbincang mengenai hal ringan, Ibuku pandai soal ini, dia mengorek banyak hal tentang Bayang yang aku saja baru mendengarnya saat ini. Mulai dari sekolahnya, kuliahnya, orang tuanya, hobinya, makanan kesukaannya dan banyak banget deh. Tidak sadar sudah jam 9 malam, percakapan tadi sungguh tidak terasa, Bayang yang ramah membuat Ibuku terlihat nyaman mengobrol dengannya.

Ibu berpamitan untuk tidur dan tinggal kami berdua di ruang tamu, aku mengajak Bayang untuk pindah tempat mengobrol di teras rumahku, agar aku bisa merokok. Ah, iya, satu hal dari Bayang yang beda dari Elang, Radit atau Ricardo, dia tidak merokok, hidupnya sangat sehat.

Saat aku ingin menyalakan rokok, Bayang mengambil rokok yang sudah di bibirku, dia membuang rokokku dan mencium bibirku dengan lembut, hangat sekali. Aku menutup kedua mataku, tidak memperdulikan di dalam rumah ada Ibuku yang bisa saja keluar tiba-tiba dan mendapati kami sedang berciuman. Setelah mencium bibirku Bayang mengecup kelopak mata kananku. Aku membuka kedua mataku dan tersenyum menatapnya.

“Aku pulang ya.. sudah malam. Kamu juga istirahat. Jangan ngerokok lagi, biar sehat” dia mengambil sebungkus rokok dari tangan kiriku dan dimasukkan ke dalam saku celananya.

“Iya, kamu hati-hati ya..” ucapku dengan penuh senyum.

Bayang tersenyum berbalik memberikan punggungnya, keluar pagar rumahku dan tidak lama setelah itu terdengar bunyi mesin mobil menyala. Aku tersenyum dengan sangat lepas merasakan hangat yang tidak jua pergi dari dalam dada tiap kali Bayang menatapku. Aku masuk ke kamar, mejatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur dan membayangkan wajah Bayang.

Aku tidak henti-hentinya tersenyum, menutup wajahku dengan bantal karena malu sendiri.

Jakarta, 5 Juli 2011

Pagi ini aku terbangun dengan penuh senyum, tadi malam aku memimpikan Bayang.

“Uweeek” lagi-lagi mual ini, ah aku masih saja lupa membeli test pack untuk menyudahi segala prasangkaku atas apa yang aku takuti. Hari ini aku harus membelinya, harus ku pastikan bahwa ketakutanku selama ini salah.

--

Aku memutuskan untuk mampir ke tempat Bayang sebelum berangkat ke kampus, masih jam setengah tujuh pagi, dengan taxi tiga puluh menit saja aku pasti sampai ke apartementnya. Aku ingin melihatnya pagi ini, semua hal yang dimiliki Bayang membuatku rindu.

Dengan semangat aku menuruni taxi yang telah mengantarku dengan cepat sampai ke tempat di mana Bayang tinggal. Lift berhenti di lantai 22, aku tersenyum, tidak sabar ingin bertemu dengan Bayang lagi.

Aku ingin memberi kejutan untuk Bayang, ku ambil kunci duplikat apartementnya yang dia pernah berikan, kubuka perlahan pintu, menutupnya dengan perlahan lagi. Berjalan dengan pelan menuju kamarnya yang masih dalam keadaan tertutup. Ku buka dengan perlahan pintu kamarnya, kunci yang kupegang sontak terjatuh. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Bayang tertidur pulas dipeluk seorang pria. Pria yang waktu itu aku lihat memakai mobilnya di parkiran mall. Tetiba pria itu membuka matanya, dan melepas pelukannya dari Bayang.

“Heh! siapa kamu?” ucapnya membangunkan Bayang yang tadi tertidur lelap di sampingnya.

Aku tidak menjawab pertanyaan pria itu, membalikkan badan dan berlari menuju pintu keluar apartement ini.

“Sinar.. Sinar.. tunggu Sinar” terdengar suara Bayang dari dalam kamarnya, dia mengejarku. Namun aku keburu masuk lift dengan kondisi hati yang kacau balau, Bayang berhenti mengejarku sepertinya, dia hanya mengenakan celana pendek dan telanjang dada, tidak mungkin dia mengejarku lebih jauh.

Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja aku lihat, aku ingat pria itu, dia pria yang memakai parfum beraroma sama dengan Bayang yang kutemui di toko buku. Siapa dia? Kenapa mereka tidur dengan telanjang dada dan saling berpelukan seperti sepasang kekasih seperti itu? Bayang? Gak.. ini gak mungkin.. Bayang terlalu sempurna..

Aku keluar apartement tempat Bayang tinggal, aku ke kampus dengan perasaan acak-acakan. Memikirkan Bayang dan pria itu.

--

Kuliah hari ini baru mulai jam 10, aku harus menungguuu satu jam lagi. Ricardo tidak kelihatan di kampus, seharusnya dia juga ada kelas jam segini. Kuhelakan nafas panjang dan memutuskan untuk duduk di kantin sendirian.

Sepi sekali kampus sepagi ini, aku tidak mengenali siapapun yang ada di kantin. Aku memang benar-benar tidak gaul. Sepertinya mereka semua seniorku, dan sepertinya mereka sedari tadi memandangku dengan tatapan aneh. Hmmm, ah biarlah.

Aku hanya memesan secangkir kopi dan merokok sampai kelasku mulai, sambil mengobrol dengan Elang untuk mengalihkan perhatianku dari kejadian tadi di apartemen Bayang yang membuatku kaget dan masih bertanya-tanya.

--

Kelasku dimulai, aku masuk, di dalam sudah ada Ricardo, aku memilih untuk duduk di sampingnya.

“Yeeee... udah sampe gak bilang-bilang. Tau gitukan gue tadi gak sendirian di kantin” ucapku ke Ricardo dengan sedikit kesal.

“Hmmm” ucapnya.

“Udah makan, Do?” tanyaku.

“Hmmm” jawabnya lagi.

“Kenapa sih? Gue buat salah lagi?” aku bertanya kepadanya, kali ini dengan nada sedikit lebih serius.

“Kalau gue tanya bisa jawabnya serius dan gak pake ditutup-tutupin?” ucap Ricardo.

“Apa sih ini? Kok serius banget?” tanyaku.

“Oke, gue gak tanya-tanya” nada bicara Ricardo kali ini sepertinya serius. Aku terdiam sebentar dan menghelakan nafas panjang.

“Mau nanya apa?” ucapku menurunkan nada suara.

“Ada apa lo sama Bayang?” pertanyaan Ricardo membuatku terdiam dan berfikir, iya..ada apa sebenarnya antara aku dan Bayang, sepertinya diantara kami tidak pernah tercetus kalimat sayang, suka apalagi cinta. Kenapa aku harus bersedih dan marah seperti ini saat melihat Bayang dan pria tadi?

“Jawab, Nar..” Ricardo membuyarkan diamku.

“Gak ada apa-apa. Benar, gue dan Bayang tidak pernah ada apa-apa” jawabku ke Ricardo.

“Bener?” dia bertanya lagi kepadaku, aku hanya mengganggukkan kepala dan tersenyum, diapun ikut tersenyum.

“Jadi gini, Nar.. gue belom ngerjain tugas.......” ah, Ricardo kembali lagi menunjukkan raut wajah dengan nada suara seperti Ricardo yang biasa aku kenal. Aku tersenyum mendengarkan cerita dia sampai kelas dimulai.

--

Selesai kuliah, aku memisahkan diri dari Ricardo, aku harus membeli test pack, dan Ricardo tidak boleh tau. Aku keluar kampus dan di situ Bayang berdiri sambil memperhatikan hpnya. Aku berjalan melewatinya, dia terlalu sibuk dengan hpnya hingga tidak melihatku melewatinya, namun tidak sampai tiga meter aku melewatinya, dia memanggilku.

“Sinar” dia berjalan menghampiriku, terdengar suara langkahnya yang sedikit berlari. Aku mengacuhkannya. Dia berhasil mengejar langkahku, menghentikanya dengan menggengam tangan kiriku. Dia menatapku dengan raut wajah cemas tanpa senyum. Aku diam, tidak beraksi apa-apa.

Dia menarik tanganku menuju mobilnya yang diparkir tidak terlalu jauh dari pintu keluar kampusku. Dia membukakan pintu mobil untuku, aku memandangnya, “masuk” ucapnya pelan. Aku masih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Namun menuruti permintaannya untuk masuk ke dalam mobil.

Dia menutup pintu mobil dan berputar untuk masuk ke dalam mobil juga, dia menyalakan mesin. Di sepanjang jalan kami sama-sama diam, dia tidak sekalipun melihatku, aku sesekali melihat raut wajahnya, dia terlihat cemas dan tegang. Dia tidak seperti Bayang yang kemarin.

--

Akhirnya dia memberhentikan mobil di parkiran depan taman tempat dulu dia pernah menjemputku tengah malam. Dia tidak keluar mobil, dan tidak pula menunjukkan akan keluar mobil. Sudah dua puluh menit kami saling diam dan tidak saling menatap. Aku memutuskan untuk membuka suara duluan.

“Siapa dia?” ucapku.

Bayang menatapku, kali ini tidak ada senyuman seperti biasanya.

“Dia mantan pacarku” akhirnya dia mengeluarkan suara, kalimat pertama yang dia ucapkan sangat membuatku dadaku sesak tidak karuan. ‘mantan pacar?’ pria tadi mantan pacar Bayang. Aku diam dengan tatapan mata sangat dalam ke matanya.

Dia menganggukkan kepala.

“Iya, aku gay. Dulu.. sebelum aku ketemu kamu Sinar..” ucapnya lagi.

Aku masih diam, seluruh bulu kudukku berdiri, semacam angin merasuki pori-pori kulitku sampai menembus jantung. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Bayang gay?

“Sinar, kamu perempuan pertama yang bikin aku jatuh cinta. Dan sekarang aku benar-benar bingung. Bingung dengan orientasi sexualku sendiri. Tapi satu yang aku yakin saat ini, aku gak mau kehilangan kamu, Sinar. Aku mencintai kamu” dia memegang tanganku, berusaha meyakiniku yang mematung tidak tau harus berkata apa.

Aku masih diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun, aku melepaskan genggaman tangannya, membuka pintu mobil, dan memutuskan untuk keluar. Bayang memanggil namaku, aku terus berjalan mejauhinya. Dengan pikiran kosong kutelusuri jalanan, dia tidak mengejarku.

--

Aku berhenti disebuah apotik, membeli alat pengetes kehamilan, lalu menaiki sebuah bus menuju rumahku. Di sepanjang perjalanan aku diam, air mata menetes dengan sendiri dari kedua mataku, aku tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Aku sampai di dekat komplek rumahku, menghelakan nafas panjang, memutuskan untuk ke rumah Ricardo dulu, masih sore, dia pasti ada di rumahnya.

--

Di depan rumahnya terdengar suara dentingan piano yang terledak di ruang keluarga Ricardo, aku mengucapkan salam, tidak ada yang menjawab, aku melihat ternyata Ricardo sedang memainkan piano tersebut. Musik dari lagu Damien Rice Unplayed Piano.

Dia tersenyum melihatku memasuki rumahnya, melanjutkan permainan pianonya. Aku duduk di sampingnya, mengeluarkan suara, bernyanyi lirih mengikuti iringan piano yang dia mainkan. Lagu ini dinyanyikan oleh dua orang, perempuan dan lelaki, aku mengisi suara perempuan dan Ricardo mengisi suara lelakinya.

“Come and see me, sing me to sleep . Come and free me , or hold me if i need to weep, or maybe it's not the season, or maybe it's not the year, or maybe there's no good reason, why i'm locked up inside, just cause they wanna hide me. The moon goes bright , the darker they make my night. Unplayed pianos, are often by a window. In a room where nobody loved goes, she sits alone with her silent song. Somebody bring her home..”

-Damien Rice Unplayed Piano-

Sampai pada bait terakhir, aku melihat wajahnya dan tersenyum, dia tetap menyelesaikan musiknya sampai dentingan terakhir. Lalu membalas senyumku saat lagu tersebut selesai dimainkan dengan baik dengannya.

Ricardo bisa memainkan hampir semua alat musik, di sela-sela waktunya dia juga menerima les privat piano untuk anak-anak kenalananya yang tinggal masih di daerah komplek ini.

--

Kami pindah tempat mengobrol, sekarang kami di kamarnya, aku meletakkan tasku di atas tempat tidurnya, menyalakan rokok dan duduk di depan teras kamarnya. Dia mengambil buku not balok, lalu ikut duduk di sampingku.

“Gile bener, masa murid gue ada yang minta diajarin lagu Unplayed Piano yang tadi tuh, lagu menye-menye mana gue tau, seharian gue ngulik biar pas moodnya, akhirnya dapet juga” ucap Ricardo yang kubalas dengan senyum.

“Do, liat langit senjanya deh, merah banget ya, cantik” ucapku sambil menunjuk ke arah langit yang sore ini terlihat sangat indah.

“Langit sore kan emang cakep mulu, Nar. Eiya, udah lama yak kita gak poto-potoin langit sore Jakarta. Terakhir kalau gak salah sebelum lo sibuk pacaran sama si Elang” dia menimpali ucapanku.

Aku kembeli tersenyum, menutup kedua mataku dan merasakan hembusan angin yang menyentuh wajahku dengan damai.

“Gue balikan, Nar sama Alyssa. Dia kemarenkan datengin gue ke kampus, dia mohon-mohon sampe nangis, mana tega gue liat cewek nangis, ya udah, coba lagi dah” Ricardo memulai curhatannya. Aku mendengarkannya dengan sesekali memberikan pendapat.

--

Langit sudah mulai gelap, nyamuk mulai berdatangan, aku dan dia masuk ke dalam kamarnya. Aku mengambil hpku yang ada di dalam tas, lalu melihat test pack yang tadi sempat aku beli. Aku mengambilnya dan meminjam kamar mandi yang berada di dalam kamar Ricardo.

Di dalam kamar mandi jantungku berdetak dengan sangat cepat, bagaimana jika hasilnya positif? Bagaimana jika ini adalah anak Bayang. Bayang yang baru saja memberikan pengakuan bahwa dia adalah seorang Gay.

Aku menampung air seniku di sebuah wadah yang sudah tersedia di dalam tes pack tersebut, mencelupkan alat pengetes kehamilan itu dengan perlahan. Ku angkat kembali setelah beberapa detik aku celupkan, ku tunggu selama dua menit seperti yang tertera di kemasannya. Satu garis muncul, jantungku masih sangat kencang berdetak, lalu.. garis kedua muncul. Jantungku seolah berhenti.

“ini gak mungkin, ini gak mungkin, ini gak bisa, ini gak boleh terjadi..” Sambil terisak kugenggam benda kecil berstrip dua di tangan kananku.

“GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK............!!” ku lempar benda itu ke salah satu sisi tembok kamar mandi berwarna hijau muda milik sahabatku.

“Nar.. Naaar.. kenapa lo? Nar..” suara Ricardo, teman baik ku mengetuk pintu kamar mandi karena mendengar teriakkan ku.

“Gak apa-apa, Do. Gue gak kenapa-kenapa..” jawabku.

“Heh, lo kenapa dah, ngapain di kamar mandi lama bener, sembelit lagi?” tanyanya.

“Kecoa, Do. Jorok banget sih lo, kecoa sampe banyak gini di kamar mandi” jawabku sambil memflush toilet duduk berwarna putih, dan ku ambil kembali benda yang baru saja ku lempar, ku cuci wajahku, membersikan maskara yang luntur dan menyimpan benda tadi di dalam dompetku.

“Mane kecoa, biar laki gini, sori demori ye kalau sampe kamar mandi gue kotor, kaya baru kenal gue aje lo. Beneran lo kaga kenapa-kenapa? Susah buang air lagi ya?” kalimat pertama Ricardo saat melihat ku keluar dari kamar mandinya.

“Makanya, sayur tuh dimakan, makannya McD mulu sih lu, seretkan pencernaan lo” lanjutnya sambil mengambil gitar yang berada di sisi lemari.

“Do, kalau gue buat masalah...la..gi..lo bakal ninggalin gue gak? Tanyaku spontan, tanpa memikirkan bagaimana reaksi dia.

“Sinar.....” jawabnya sambil tersenyum dan menghentikan permainan gitarnya.

“....kapan sih gue ninggalin lo?” lanjutnya.

Aku menghelakan nafas, “Tapi kali ini kayanya gue bakal bikin lo juga kecewa, Do” ucapku.

“Emang lo ngapain sih, Nar?”

Tetiba terdengar intro musik lagu Perfect dari Smashing Pumkins, ringtone khusus buat telepon masuk dari Alyssa.

“Bentar, Nar. Cewek gue telepon”

“Hallo Beib... ini lagi di rumah, ada Sinar, biasa..” ucapnya di telepon.

--

“Do, gue balik, udah malem” ucapku sambil mengambil tas merah yang tergeletak di atas kasur.

“..eh, bentar Beib.. Nar, jangan lupa makan sayur, besok gue jemput lo jam 9 ke kampus..” Ricardo mengejar ku sampai pintu kamarnya.

Aku turun, pamit ke Tena adik Ricardo yang sedang asik menonton dvd di ruang keluarga. Keluar rumahnya, menghela nafas panjang lalu berjalan kaki menuju rumahku yang hanya berjarak 2 kilo meter dari rumah Ricardo.

Malam ini tidak ada bintang yang terlihat, bulanpun sepertinya tertutup awan, hanya ada aku dan bayangan yang sedikit redup. Sambil tersenyum aku berkata pelan “Oke, kalau ada Sinar aja lo, muncul, kemana lo pas gelap?” pertanyaan bodoh yang kuucap ke bayangan diriku sendiri.

--

Aku berjalan hingga akhirnya sampai ke rumahku.

“Assalamualaikum, Bu. Tadi ke rumah Ricardo dulu, maaf gak ngabarin” salamku ke Ibu.

“Wa’alaikumsalam.. sudah makan kamu? Tadi Ricardo telepon Ibu, katanya pencernaan kamu mulai gak beres lagi?” tanya Ibu.

“Nggak kok, kaya gak tau dia aja, sok tau” jawabku.

“Bu, aku mau mandi trus langsung tidur, pintu pager udah aku kunci. Ibu jangan lama-lama nonton tv-nya, tidur, besokkan kerja. Aku ke kamar ya, Bu”

“Eh, makan dulu kamu, badan udah kurus gitu” sahut ibuku melihat aku mulai berjalan ke kamar.

“Sengaja bu, lagi diet” jawabku singkat beberapa detik sebelum menutup pintu kamar.

“Hhhhh..anak jaman sekarang itu maunya sekurus apa sih? Kayaknya jaman dulu makin berisi itu makin sexy deh” terdengar ucapan ibuku pelan dari dalam kamar.

Selesai mandi, ku keringkan rambut ikalku yang sudah hampir menyentuh pinggang, lalu ku ambil pulpen dan buku kecil berwarna merah bertuliskan “Hope” di depannya. Ku rebahkan sejenak badanku di tempat tidur sekitar 5 menit pikiranku kosong, menatap langit-langit kamar dengan hampa. Kemudian kuatur posisi tidurku senyaman mungkin untuk bisa membuat badanku santai, namun tetap bisa menulis.

Kubuka buku kecil itu, di halaman pertama seperti biasa ada fotoku, Ibu dan almarhum Ayah, dan seketika itu pula air mataku mengalir. Kubuka hingga ku temukan halaman yang belum terisi, mulai kucoretkan dua kata dengan huruf kapital “AKU HAMIL”. Tanganku masih bergetar setelah selesai menuliskan dua kata tersebut, kulanjutkan menulis sambil sesekali menghapus air mata yang tak jua mau berhenti membasahi kedua pipiku.

“AKU HAMIL

Apa lagi yang menungguku di cerita kali ini, Tuhan?

Seorang bayi? Apa yang harus ku katakan ke Ibu? Apa Ayah sudah tau masalah ini? Apa sekarang dia sedang menangis melihat putri satu-satunya seperti ini?

Ini gak boleh terjadi, aku gak boleh hamil. Ya, aku tidak boleh hamil.”

--

Ku tutup buku merah tersebut, ku ambil hpku, menjawab beberapa pesan yang masuk sedari sore tadi, salah satunya dari Elang.

“Kamu sudah di rumah? How’s your day today, darl?”

“Hay, where are you?”

“Hellooo..”

“Sayaaaaaang..”

Baru saja ku baca BBM dari Elang, dan ku balas:

“Aku hamil.” Jawabku

“Are you joking? But, we never had sex. Kenapa bisa begini?” Elang membalas BBM-ku, butuh 10 menit untuk aku membalas pertanyaan tersebut.


Bersambung....



Oleh: @ekaotto

Annica #10

#10

Even If I have to choose it once again, I will still choose you. I love you, too…

- Annica -


"Kamu ada keperluan apa sih Ed?" tanya Nadira kesal
"Apa ada yang salah dengan aku nelpon kamu?"
"Ngga, ngga ada yang salah kok. Cuma aku bingung aja, ada apa lagi sih?" suara Nadira mulai emosi
"Aku cuma mau denger suara kamu kok" jawab Edrick pelan
"Ed, kita udah putus. Untuk apa lagi semua ini?" Nadira mulai menurunkan nada bicaranya, terdengar hampir putus asa.
"Nad, I can't stop thinking of you"
"Kita tahu alasan kita putus kemarin kenapa, aku ngga bisa…"
"Nad, yang mengambil keputusan itu kamu. Kamu yang nantang kita buat putus" Edrick mulai terdengar emosional ketika Nadira mengungkit kejadian putus mereka hampir 2 bulan yang lalu itu "Kamu berteriak putus di telpon dengan aku Nad" sambung Edrick
"Tapi kamu juga setuju dengan hal itu"
"It's not our first time"
"Iya, dan bukan yang pertama kalinya juga kamu bohong sama aku. Apa sih susahnya bilang sama aku kalau kamu mau pergi ke Bali sama anak-anak? Seandainya Revan ngga bilang ke aku saat itu kalau dia mau ke Bali dan ada kamu, mungkin aku ngga akan pernah tahu."
"Nad, aku cuma ke Bali dan bareng sama temen-temen kita. That's not a big deal"
"See? Kamu bilang itu bukan masalah besar, persepsi kita beda Edrick. Buat aku itu sebuah kebohongan dan kita sama-sama tahu, aku ngga suka dibohongin Edrick"
"Nadira, aku ngga ada maksud buat bohong, waktu itu…"
"You promise me to come here at that time Edrick. Tapi bukannya kamu datang dan nengok aku disini, kamu malah pergi ke Bali sama anak-anak tanpa bilang sama aku"
"Kita kan udah bahas soal itu Nadira. Kamu tahu posisinya kenapa aku ngga bisa pindah ke China saat itu. Dan aku bukan ngga bilang ya, I told you that I want to go to Bali with Revan"
"Kamu bilang mau ke Bali pas udah di airport Edrick. Dan ya memang kita udah bahas, kamu udah jelasin ke aku alasannya apa sampai akhirnya kamu ngga bisa pindah kesini, tapi itu bukan jadi alasan kamu bisa pergi seenaknya ngga ijin sama aku Ed"
Edrick menarik napasnya pelan, sekali lagi mendengarkan semburan emosional Nadira, with the same reasons, seperti yang selalu terjadi dalam percakapan mereka dua bulan terakhir ini.
"Kenapa ngga kamu aja sih yang pulang ke Indonesia?" tanya Edrick putus asa
"Aku ngga mau, aku masih mau disini, aku baru kerja disini. Aku masih mau cari pengalaman disini, aku masih…"
"Iya iya Nad, kamu udah sering bilang alasan kamu ke aku soal itu. Dan kita juga udah tahu kan alasan aku ngga bisa pindah ke China kenapa, aku saat itu butuh refreshing Nad dan kebetulan anak-anak ngajakin ke Bali makanya aku ikut. Aku ngga bisa ke tempat kamu saat itu, karena kalau aku pergi maka keinginan aku buat stay disana dan deket sama kamu akan semakin kuat. Padahal aku ngga bisa ninggalin kerjaan disini Nad, Papa sakit dan hubungan aku sama Papa juga baru mulai membaik akhir-akhir ini. Please understand me Nadira…"
"Aku bisa mengerti kamu asal kamu jujur sama aku Edrick"
"Aku udah jujur sama kamu Nadira, aku uda jelasin ke kamu alasannya apa tapi kamu…"
"Stop it Edrick, we are going nowhere. Aku capek, aku ngantuk. It's late night here. Bye"
Nadira menutup telpon itu tanpa mendengarkan lagi jika masih ada argument atau alasan apapun dari Edrick.
Edrick melempar telpon genggamnya ke atas meja. Kesal. Edrick menghela napasnya dan merasa mendadak lelah dengan pertengkarannya barusan dengan Nadira.
Always end up like this.

Aku membuka-buka album photo milik Edrick di facebook. Aku meminjam ID Sherry untuk melihatnya karena sejak awal kenal Edrick tidak pernah meminta aku menjadi temannya di facebook padahal dia sudah menanyakannya ketika awal-awal kenal.
Masih ada banyak foto-foto Edrick bersama Nadira yang tersimpan di facebooknya dan status Edrick pun masih 'in a relationship' meskipun tidak tertulis dengan siapa. Tapi satu hal, Edrick dan Nadira tidak berteman lagi di Facebook meskipun masih ada beberapa foto di album milik Nadira. Kemungkinan besar Nadira yang men-delete Edrick.
Aku keluar dari account Sherry dan menutup window itu. Dan aku semakin gelisah.
Aku tahu aku mulai nyaman dengan semua perhatian Edrick. Dan aku senang menerima itu semua. Apalagi keluargaku juga tidak keberatan dengan kedekatan kami berdua, itu sudah seperti lampu hijau untuk aku.
Pengalaman pertamaku tidak berjalan baik karena memang keluargaku pun tidak setuju dan sejak saat itu aku memutuskan untuk hanya akan menjalani hubungan dengan seseorang yang disetujui oleh keluargaku.
Aku memang egois tapi aku tidak ingin ada di posisi yang berjuang membela hubunganku dan pacarku didepan keluargaku lagi, karena aku lelah. Hanya mengingat semua kejadian itu saja rasanya aku kembali merasakan beban berat itu lagi.
Setiap orang pasti akan merasakan kelelahan ketika kamu berjuang untuk seseorang, mempertahankan sebuah hubungan tapi ternyata yang kamu dapatkan hanya pengkhianatan di akhir ceritanya.

"Aku udah ngga mungkin main-main. Umur aku udah ngga muda lagi dan apalagi aku satu-satunya yang belum menikah di keluarga aku, jelas semua orang udah menanyakan kapan aku menyusul adikku, iya kan?" ucap Edrick dengan tegas
"Aku salut sama adik kamu, buat aku itu hebat lho. Mengambil keputusan buat married di usia yang masih muda, di usia yang justru sebenernya lagi memikirkan kesenangan diri sendiri."
Aku dan Edrick saat ini sedang makan malam, menghabiskan malam bersama lagi untuk kesekian kalinya. Obrolan diantara kami selalu mengalir dengan sendirinya. Edrick yang memang supel dan mampu membuat aku benar-benar nyaman membuat kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Dan entah siapa yang memulai, kami ada di pembicaraan seperti ini…
"Kamu siap kalo diajak married sekarang?"
"Hmm…it's difficult to answer it" jawabku setelah berpikir sejenak
"Kenapa?"
"Aku mau menikah tapi aku ngga pernah membayangkan kalau aku mau menikah sekarang ini."
"Mungkin karena kamu sendiri ngga ada bayangan kamu mau menikah dengan siapa iya kan?"
"Iya mungkin juga"
"Kapan target kamu mau menikah?"
"Mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lagi ya"
"Dua tahun lagi aja ya…"
Aku menatap Edrick kaget dan lelaki yang sedang aku pandangi itu justru hanya tersenyum-senyum.
"Aku ngga akan disini dan melakukan semua hal itu kalau aku ngga ada rasa apapun sama kamu. Aku sayang sama kamu" Aku mendengarkan kata-kata yang terucap dari mulut Edrick dengan setengah takjub.
Iya, aku tahu kalau dia sangat perhatian.
Saat aku sakit, dia yang tiba-tiba datang ke depan rumahku dan mengantarkan sarapan, selama tiga hari berturut-turut tanpa diminta dan meski aku larang, dia tetap melakukannya.
Dia juga yang tiba-tiba muncul didepan pintu rumahku dan mau mengantarku ke dokter kemarin, dan dia juga yang dengan senang hati mengantarkan aku ke kantor dan menjemputku sepulang kantor.
Aku tahu seorang lelaki ngga akan dengan sukarela melakukan semua itu jika dia ngga ada maksud apapun. Tapi aku sendiri tetap masih merasa ngga percaya ketika mendengarnya berbicara seperti itu.
"Aku ngga tahu dari kapan tapi mungkin dari sejak kamu sakit, aku cuma merasa aku takut kehilangan kamu. Aku selalu merasa khawatir dengan keadaan kamu. Dan tambah hari semua perasaan itu semakin kuat. So, here I am telling you that I love you"
Aku speechless. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.
Aku ngga mau bohong dengan perasaan aku sendiri. Aku pun merasa nyaman dengan semua waktu yang aku lewati bersama Edrick.
Dia perhatian, dia baik, dia sopan. Dan aku menikmati semua perasaan yang muncul ketika aku bersama dia.
"Apa yang kamu rasain Ann?" tanya Edrick ketika melihat aku terdiam dan hanya melamun sambil memainkan kentang goreng yang ada diatas piring didepanku.
Aku menatap wajahnya lama, memperhatikan wajahnya seusai dia mengucapkan semua kata-kata itu.
He looks blushing in this time.
"Aku ngga akan menemani kamu mengobrol sampai tengah malam ataupun berulang kali menerima ajakan kamu pergi, kalau seandainya aku pun ngga ada rasa apapun sama kamu"
Edrick tersenyum mendengar jawaban aku dan hanya menganggukkan kepalanya.
Hari ini, 16 April 2011, aku dan dia sama-sama mengakui perasaan yang kami simpan selama ini didalam hati kami.
Bukan lega yang kami rasakan tapi lebih kepada suatu kebahagiaan karena apa yang kami rasakan tidak salah.
"Aku bisa bilang kalau aku uda menyatakan perasaan aku sama kamu Ann"
"Well, kita bukan lagi abg yang harus pakai ritual pertanyaan mau ngga jadi pacar saya, iya kan?"

@annicasudj 11:11 thank you for loving me :)


~  (oleh @luillciousmey)