16 September 2011

Komedi Mengusik, Hati Tergelitik


Setiap orang punya bakat melucu. Pertama, bisa karena keahlian mengolah kata menjadi bahan lelucon. Kedua, kelemahan orang lain malah dijadikan sumber tertawaan. Ketiga, secara tidak sengaja, apapun pilihan langkah yang diambil orang tersebut, berujung guyonan alias nafas juga udah bikin orang ngakak. Cara mana yang dipilih buat nonjolin bakat melucu, nentuin juga apakah lo udah nguasain yang namanya "ilmu komedi".

Orang pun sering menyamakan arti komedi dengan berguyon dan komedian dengan pelawak. Di mata gue, ada hal yang lebih dalem di sana. Mengutip dari Steve Martin, salah satu aki-aki londo kocak : "Comedy is the art of making people laugh without making them puke." Kurang lebih gue artiin, buat mengocok perut, nggak perlu sebenernya sampe keluarin hal-hal yang bikin isi perut ikutan berdisko. Nimpuk orang pake kotoran kebo, kepleset trus nyebur ke got, nggak sengaja makan kecoa di mangkok soto, or ditampar cewek seksi gara-gara nggak sengaja nyolek p*nt*tnya. Comedy is more complicated than the latest science theory.

Mau cek udah seberapa level ke-komedi-an lo? Colek nih teorinya Jerry Seinfeld tentang 4 level komedi. Level satu, bikin dulu temen-temen lo ketawa. Naik ke level dua, gantian bikin ketawa orang-orang yang nggak lo kenal, tapi gratis ya! Nah, kalo tiba-tiba lo dibayar buat bikin orang lain ketawa, udah napak level tiga tuh. Masternya? Level top alias empat, bikin orang-orang ngomong trus ngelucu kaya lo.

Malem ini, di WooHoo Cafe, gue berharap nemuin master-master di level empat ini buat ngeramein malem minggu perdana pasca tragedi surat sakti. Sekalian deh, gue bikin level 5, nemuin orang yang pengen gue denger ngelucu khusus buat gue seumur hidup, till death do us apart.

Harapan tinggi? Ah, nggak juga. Inget dong petuah Ibu Guru, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit". Tinggalin dulu motto Cassanova, "Gantungkan selingkuhanmu sebelum menemukan mangsa yang baru". Apalagi petuah Bapak Bupati, "Gantungkan dulu proyeknya, bagi-bagi dulu dana pelicinnya". Salah-salah kita malah masuk TV, jadi Cassanova diuber Mas Mandala di Termehek-mehek or Bapak Bupati diulas setajam silet sama Bang Napi, waspadalah! Berabe mai beybe ini namenye!

Tuh, kan! Kebanyakan nahan nggak ngelucu, pikiran gue malah makin ngaco. Siaul, kenapa jadi macem abegong, abege songong gini gue? Yak, saatnya mata elang dipasang, antena radar dinaikin, hidung tapir dikecilin dulu ke Mak Irit (kalo Mak Erot kan ngegedein, Mak Irit buat ngecilin dong hehehe).

Gue, Melanie, dan Davi, cowoknya Melanie nyampe di WooHoo Cafe lebih cepet dari jadwal mulainya acara utama. Masih sempetlah kita disuguhin lagu-lagu parodi ala Team-Lo yang dibawain sama wolessuret (alias selow terus), sebuah band kocak yang diisi empat cowok yang penampilannya kaya baru bangun tidur, lengkap dengan bantal guling jadi properti, trus nyanyi sambil minum es teh manis dari gelas gede. Santay kaya di pantay, selow kaya di pulow, berlagak budeg kaya di warteg (terutama pas bagian ditagih utang bulanan sama Mbak Marni yang lagi jaga).

Walaupun WooHoo Cafe udah jadi salah satu tempat wajib mampir buat banyak orang karena konsep tempat yang asyik dan menu nyam-nyam murmer; acara-acara unik yang mereka tampilin selalu jadi magnet terkuat buat massa hadir dan ngabisin waktu mereka di sini. Termasuk acara Stand Up Comedy, ternyata cukup menyita perhatian banyak manusia malem ini.

Segala spesies manusia nongkrong di sini, mulai dari kawula muda yang ya-elah-gueh-gaol-banget-gitu-loh lengkap dengan setelan behel-smart phone anyar-headphone segede gaban edisi conge'an akut-outfit boyband Korea, ada juga komunitas fans komedian legendaris macem Warkop DKI, Benyamin S., Srimulat, termasuk SuPeRMen (Sule Pens yang Rame en nggak ceMen) lengkap dengan kaos "Gue, Lo, End" yang fenomenal itu. Komplit dah, spesial pake telor!

Nggak lama Davi sukses dapetin tempat duduk yang strategis, bisa memandang leluasa ke panggung sekaligus memantau sekeliling, membuat gue merasa juara. Potensial banget tempat ini buat pengintaian, mencari jodoh bisa, ngincer korban copet apalagi. Sekitar jam setengah sembilan malem, duo presenter Emil Secuil dan Igo Agogo langsung membuka acara, dengan teriakan, "Ayo semua tertawa! Sebelum tertawa itu dilarang dan kita semua dikejar Kamtib!" Sontak aja langsung teriakan itu disambut dengan huahahahahaha membahana seantero ruangan. Busyet, berasa wisuda lulusan unggulan di Rumah Sakit Jiwa, nih! Saik, ma men! Let's get it on!

Tiap peserta Stand Up Comedy dikasih waktu 3 menit buat nunjukin kalo dia bisa bikin penonton ketawa. "Inget ya, kalo durasi abis, nggak bisa masukin koin buat memperpanjang," jelas Igo Agogo yang juga terkenal sebagai anak juragan wartel. "Iya, mending koinnya dipake buat kerokan atau disumbangin buat jeruk Bali 17-an ntar," timpal Emil Secuil yang suka nyentil sambil cemal-cemil. Duh!

Sayang, sejauh ini belom ada yang bener-bener sukses menggelitik urat ketawa gue. Rata-rata peserta yang maju malah nyampein joke-joke yang udah pernah gue baca semua di broadcast message smart phone, plus isi yang menyerempet selangkangan semua. Nah-Ini-Dia dan Lampu Merah banget deh gayanya.

Yang agak mendingan baru nemu satu orang aja. Seorang mas-mas setengah tua, pake seragam marinir, berlogat Jawa Timur-an. Sebut aja namanya Kopral Darto. Dia cerita tentang keberhasilannya membuat gajah yang terkenal galak dan liar menjadi menangis tersedu-sedu. 

"Sebelumnya, tentara dari Amerika, India, Thailand, ora iso! Pokoke wong Endonesa, top markotop lah!" serunya sambil mengacungkan dua jempol dan berjoget ala dangdut di lapangan TNI. Dia ngelanjutin, "Padahal aku ndak pakai yang canggih-canggih. Tak kasih dompetku, tak tunjukkin slip gajiku. Eh, malah nangis dia!" serunya dengan muka polos campur cengar-cengir pamer congor. "Gajah'e malah ngomong, oalah Pak Lik, gajimu wis cilik, potongan'e gede, wis entek tho... (gajimu udah kecil, potongannya besar, jadi aja abis)"

To be honest, guyonannya sih es-te-de banget. Udah banyak kita denger joke  model gitu di berbagai arena lawak dan buku humor. Cuman, mimik dan ekspresi Pak Kopral itu yang kocak! Tipe Srimulat-an (mirip Timbul, idola gue), berpadu dengan pede van tengil. Dia lagi nggak berusaha melucu, tetapi lagi jadi dirinya sendiri, bercerita tentang pengalaman absurdnya. Di situ sisi menarik Pak Kopral yang dapet tepuk tangan cukup meriah dari penonton, termasuk gue.

Ngeliat gue yang tiba-tiba nyengir setelah sejam lebih bermuka rata dan lempeng, Melanie nyolek gue. "Heh! Masa iya lo mau milih Pak Kopral? Kematengan di pohon itu, Ri!" serunya seperti lagi menyiram seember air ke anak kecil yang susah bangun pagi berangkat sekolah. Gue pasang senyum penuh kode, "Tenang, Ibu Peri. Yang baju merah jangan sampai lepas, ya!" Comotan lirik Nyanyian Kode dari Warkop DKI main gue tempelin aja, dengan arti terselubung kalo gue masih cukup waras buat nggak ikut joget sama Pak Kopral di panggung sana. Helaan nafas lega Melanie terdengar dan kembali kita pasang aksi detektif partikelir in action.

Hampir di penghujung acara, penampil terakhir pun tiba. Seorang cowok muncul dengan t-shirt bertuliskan, "Funny? Hell not. I'm just being comical." Sekilas gayanya mengingatkan gue sama Adam Sandler. Hangat, menyenangkan, dan membuat orang-orang di sekitarnya begitu rileks.

Habis Lebaran, lo yang punya pacar mendingan jauh-jauh dari mantan deh. Soalnya, bakal ada godaan dari yang namanya ARUS BALIK.

Buat cewek-cewek, hati-hati sama gombalan cowok yang bilang "I'll give the world to you, Baby." Biasanya, di hari ulang tahun lo, dia bakal kasih kado buku atlas lengkap.

Pada tahun 3000, para ahli menemukan sebuah tulisan dari tahun 2011. Teks purba itu berbunyi 4L@y F0r3v4. Kesimpulannya : Indonesia sudah dapat berkomunikasi dengan alien dan menggunakan bahasa mereka sejak tahun 2011.

Setahun pertama menikah, istri rajin bicara dan suami mendengarkan. Lima tahun setelahnya, suami banyak bicara dan istri mendengarkan. Setelah tahun ke sepuluh, suami dan istri bicara terus, tetangga yang jadi pendengar setia.

AS-TA-GA!

Lagi-lagi gue melongo bin menganga. Ada juga nyelip yang begini. Di sela ketawa heboh para penonton, dia bisa tersenyum tipis sebentar kemudian lanjut bercerita dengan tenang. Pro abis! Houston, we have our guy right here!

"Kijang satu, kijang satu. Kijang roda empat mogok di jalan sekarang," ucap gue lirih ke telinga Melanie. Kode penting bahwa gue bertekuk lutut (sementara) buat Mas Adam Sandler KW ini. Melanie berbisik sebentar ke Davi dan Davi pun beranjak ke arah temannya yang jadi panitia acara. Nggak sampe sepuluh menit, Davi membawa secarik kertas. Isinya sebuah nama dan ID Twitter seseorang.

Euforiano Semesta. @comicaLife.

Lawan sudah di tangan. Saatnya kita mulai pertarungan 12 ronde ini. PAsca canda-panggung, sekarang kita lihat apa lo juga bisa sukses di arena yang namanya Candu Asmara? Tenang, ini bukan buatan Pretty Asmara. Yah, walaupun ada Pretty Woman menunggu di sana.

Ah, belum apa-apa, gue udah jadi pujangga ala Bang Rhoma. Pi-a-no mari main. Eu-fo-ri-a-no mari... Maritwit saja sudah bikin hati gue bahagia hahahaha. Pe-de ge-la!

Bulan, tolong kasih gue wangsit. Apa kicau pertama yang harus gue titipin ke burung biru buat dia?


*joke-joke diambil dari tayangan Stand Up Comedy KOMPAS TV dan akun Twitter @jokefisien


-sambunglagiesokhari-





- (oleh @retro_neko)

No comments:

Post a Comment